Jumat, 19 Oktober 2012
ERA PURBA VS MODERN KAJIAN NILAI DAN IDEOLOGI KESEIMBANGAN KEKUASAAN MOMENTUM SUKSESI BAUBAU-SULTRA 2012
Oleh: Bia Wakatobi
Sebentar lagi perhelatan pemilukada di BauBau dan Sulawesi Tenggara akan digelar. Momentum ini tentu memberi isyarat harap-harap cemas antara terwujudnya pemimpin yang diharapkan berhadapan dengan resiko stagnan nya harapan akselerasi pembangunan dikedua daerah ini.
Berikut ini, sebagai putra daerah yang tumbuh besar di negeri orang (Samarinda, Red) merasa berkepentingan untuk menurunkan analisis sisi suksesi (pergantian kepemimpinan) dengan harapan menjadi pencerdas terhadap masyarakat pembaca akan wujud harapan kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi buah peran pemimpin terpilih hasil pemilukada kedua daerah berpengaruh di Sulawesi Tenggara tersebut.
Dalam sadar dan tidak sadar, nilai telah menjadi keyakinan dan penuntun diri manusia dan menganyam perkembangan masyarakat. Manusia dan masyarakat dalam setiap tahap perkembangan membutuhkan ideologi sebagai pandangan hidup. Dalam arti nilai-nilai menjadi keyakinan hati manusia dan nurani masyarakat, sedangkan ideologi sebagai pandangan hidup yang membingkai manusia dan masyarakat dalam setiap gerak dan langkah hidup dan kehidupan.
Seorang anak manusia yang tidak mempunyai kesadaran keyakinan nilai dan pandangan hidup, tentu hanya berteori dan hanya bekata-kata dalam berkonsep. Manusia demikian tidak lebih sebagai robot, hanya sekedar berkata-kata tanpa pijakan nilai dan ideologi. Manusia serba praktis-pragmatis dan di saat tertentu penuh kesepian dan kehampaan.
Manusia yang tidak menunaikan kewajiban tetapi tidak malu menggunakan hak-nya. Manusia ujung-ujung duit (UUD), mempawaikan kekuasaan dan memamerkan kepentingan yang tidak senonoh.
Nilai bermakna sesuatu yang berharga, tumbuh berkembang dalam hati manusia dan nurani masyarakat. Dikatakan nilai apabila diyakini dalam berproses untuk menjadi, membentuk hati nurani dan menganyam pola berpikir serta berwujud nyata dalam tingkah laku manusia yang membangun kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Pembentukan pola pikir dalam bingkai pandangan hidup manusia yang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di sebut ideologi. Melalui ideologi, manusia mengolah pikiran dalam model teori untuk mempengaruhi pikiran orang lain dalam menganyam kehidupan bermasyarakat.
Penyederhanaan teori dalam rumusan konsep yang dilaksanakan demi membangun hidup dan kehidupan bersama yang lebih baik. Dengan demikian diperlukan kecerdasan intelektual untuk memahami ilmu pengetahuan yang mempunyai roh nilai dan berjiwakan ideologi, bertubuh teori yang beranggota tubuh konsep dalam membangun hidup dan kehidupan.
Secara hakiki nilai bertumbuh, berkembang dan membentuk kepribadian seorang manusia. Proses berkembang nilai dalam diri manusia sangat ditentukan oleh lingkungan masyarakat yang membentuknya sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Sesungguhnya dalam diri seseorang telah dikaruniai secara kodrati nilai sebagai manusia (nilai kemanusiaan), membedakannya dengan makhluk hidup lain.
Keluarga menjadi faktor internal penentu walaupun faktor utama tetap dalam diri manusia itu sendiri. Kemudian lingkungan masyarakat yang luas dan kompleks sebagai faktor eksternal (nilai sosial). Nilai kemanusiaan dalam diri seseorang terukur dalam proses tumbuh dan berkembang anak manusia itu dengan sesama dalam keluarga dan lingkungan sosialnya.
Manusia dalam keluarga dan lingkungan masyarakat purba (abad-VI SM), nilai kemanusiaan yang tumbuh dan berkembang sangat individual. Ditandai dengan kekuatan dan kekerasan yang ditonjolkan, homo homini lupus, manusia menjadi srigala dari manusia lain. Masyarakat purba mempunyai hukum “siapa yang kuat memangsa yang lemah” (hukum rimba/hukum alam).
Dalam perkembangan semakin bertambah populasi, manusia tidak dapat mengelak dari kebutuhan akan sebuah aturan hukum hidup bersama yang lebih beradab. Keperluan aturan hukum untuk meminimalisir pengutamaan kekuatan dan peragaan kekerasan sosial oleh para penguasa purba. Era tradisional menjemput manusia dan masyarakat kepurbaan dalam semboyan ubi societas ibi ius, “di mana ada masyarakat di situ ada hukum” (hukum masyarakat), dikenal dengan masyarakat tradisional (abad ke IV SM – V M).
Kehidupan manusia dalam masyarakat purba, mempertahankan nilai kemanusiaannya melalui jalan kekerasan, menandakan pengutamaan ketahanan dan kepentingan individu serta kelompok. Sedangkan kehidupan manusia dalam masyarakat tradisional, yang diutamakan ketertiban bersama dan kepentingan umum.
Dalam tahap perkembangan manusia dan masyarakat dari zaman purba yang mengutamakan nilai kemanusiaan individual (nilai individu) bergeser ke tahap perkembangan manusia dan masyarakat tradisionnal yang mengutamakan nilai kemanusiaan bersama (nilai komunal), mengisyaratkan manusia mulai menyadari kepentingan bersama (public) sebagai makhluk sosial di samping kepentingan diri dan kelompok (ego) sebagai makhluk individu.
Tarik menarik kepentingan diri (ego) dan kepentingan umum (public) dalam diri seseorang, menandai tahap bertumbuh, berproses nilai tradisional dalam hati dan keyakinan seorang anak manusia. Konflik nilai purba versus nilai tradisional dalam diri manusia dan perkembangan masyarakat, memungkinkan tampilnya nilai religius (religio ego sun) menganyam masyarakat abad pertengahan (abad V – abad XV).
Nilai religius menawarkan keselamatan hidup akhirat bagi umat manusia yang selalu mengejar keselamatan duniawi dalam konflik kepentingan diri versus kepentingan sosial. Tawaran keselamatan hidup akhirat di era mulai berpengaruhnya agama, membantu tahap perkembangan masyarakat dalam anyaman nilai modern yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (abad XVII – abad XIX).
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menandai munculnya manusia dan masyarakat rasional (moderen) sebagai lawan manusia dan masyarakat purba, tradisional yang irasional. Baik manusia purba dan manusia tradisonal beserta masyarakat yang dihasilkan ditandai dengan keirasionalan yang lebih menguasai pola pikir dan pola kehidupan mereka.
Dalam arti bahwa pola pikir purba dan tradisional, juga pola pikir religius dan modern tentu tetap mewarnai kehidupan manusia dan masyarakat dalam perkembangan sampai kini dan akan datang. Namun yang paling berpengaruh tentu sesuai situasi dan kondisi tertentu saat itu, sekarang, dan akan datang yang menunjukan nilai-nilai dan tahapan masyarakat mana yang lebih dominan.
Dengan demikian dalam proses perkembangan diri seorang anak manusia dan masyarakat, tidak terhindarkan saling berpengaruh nilai-nilai (purba, tradisional, religius, modern) dengan karakter dan cirinya masing-masing.Dalam perkembangan nilai religius yang memediasi konflik nilai purba versus nilai tradisional, melahirkan nilai modern dengan masyarakat modern dalam semboyan corgito ego sun, “saya berpikir maka saya ada”. Pencermatan nilai modern dengan masyarakat modern menganyam ideologi sosialis versus ideologi kapitalis.
Tercermati bahwa Ideologi sosialis sebagai pola pikir menganyam kelanjutan masyarakat tradisional yang rasional, sedangkan ideologi kapitalis sebagai pola pikir mereinkarnasi masyarakat purba yang rasional di era kekinian.Dalam arti bahwa feodalisme yang menjadi watak kekuasaan dan ciri masyarakat tradisional, terformat kembali dalam manusia dan masyarakat modern sosialis. Sedangkan andalan kekuatan dan kekerasan yang menjadi watak kekuasaan dan ciri masyarakat purba tereinkarnasi dalam manusia dan masyarakat moderen kapitalis.
Nilai dan ideologi membelenggu, memperbudak atau memerdekakan, memanusiakan? Merupakan sebuah pertanyaan menggelitik kebatinan, kerohanian seorang anak manusia demi mengoreksi dan mengevaluasi suatu perkembangan diri. Perkembangan diri yang berkorelasi erat dengan perkembangan masyarakat sebagai buah pikiran dan karya, terutama ditujukan kepada manusia para pemimpin.
Manusia para pemimpin yang dipercayakan Rakyat dan Umat untuk memimpin di berbagai lini kekuasaan demi membawa perubahan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik dari hari kemarin. Apalagi manusia para pemimpin yang tidak dalam kesadaran merajut keyakinan nilai dan menganyam ideologi dalam hidup dan kehidupannya secara cermat dan cerdas. Bahkan kurang meyakini nilai dan minus pemahaman ideologi dalam merajut perubahan sosial yang lebih baik.
Tentu berdampak dunia para pemimpin serba praktis pragmatis, tidak kaya nilai dan miskin makna. Dunia para pemimpin terjebak dalam nilai dan ideologi yang membelenggu kepentingan diri, kelompok dan golongan. Menerapkan kekuasaan beraroma feodal, hanya mengatasnamakan Rakyat, Umat dan demi Kepentingan Umum sekedar formalitas dan sebatas program dan anggaran.
Namun selesai jangka waktu program dan habis anggaran, serta berakhir periode kepemimpinan, sering Rakyat, Umat yang menderita, miskin, rawan pangan, gizi buruk, buta huruf, kering rohani, tidak mengalami perubahan kehidupan yang lebih baik.
Para pemimpin sering tidak memperbaharui hidup secara maksimal dan berkacamata kuda dalam penghayatan nilai-nilai. Kualitas dunia para pemimpin yang tidak reformatif, sebagai dampak kurang cermat memahami ideologi, berujung ketidak-konsistenan berpikir dan bersikap.
Ketidak-konsistenan dalam mewujudkan hal-hal yang pernah dikumandangkan melalui janji-janji kampanye dan khotbah melalui mimbar kepada masyarakat. Kondisi demikian sesungguhnya menandakan sedang terjadi krisis nilai dan ideologi dalam dunia para pemimpin. Perlu kesadaran bahwa sesungguhnya semangat kehidupan purba dan spirit kekuasaan tradisional secara aktual sedang terjadi, dipraktekan dalam dunia para pemimpin di era sekarang.
Melalui kekuasaan yang diberikan rakyat dan umat, dunia para pemimpin mempraktekan kekuasaan yang menggejalakan pengutamaan kepentingan diri dan kelompok, menyederhanakan setiap pemecahan masalah sosial dengan anggaran (uang), kemudian tidak efisien dan efektif penggunaan untuk kepentingan Rakyat dan Umat. Karena dari lima agenda Reformasi 1998 (Amandemen UUD 1945, Hapus Dwi Fungsi ABRI, Percepat Pemilu, Pemerataan Pembangunan ke Daerah, Berantas Korupsi), hanya agenda pemeberantasan korupsi yang secara telanjang menampakan kegagalan pemerintah dari satu regim ke regim yang lain telah gagal untuk memberantas.
Feodalisme kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat dan memanipulasi keberadaan umat dengan anggaran, kenyataan lebih banyak diperuntukan jalan-jalan para pemimpin dengan dayang-dayang birokrasi, para pengawal politik, serta para utusan/mediator para penguasa dan pengusaha, serta kroni-kroni dari ibukota Negara sampai ke kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan secara khusus pula sulit terelakkan untuk Sulawesi Tenggara.
Pawai kekuasaan yang tidak populis mencitrakan penikmatan status sosial yang diemban, menjadikan kepemimpinan kurang efisien dan efektif, terjadi hampir di setiap daerah Kabupaten/Kota dan Propinsi di seluruh Indonesia. Kemudian dikumandangkan dalam pawai pemberitaan mengenai kerinduan dan romantisme kekangenan Rakyat dan Umat dalam setiap menjemput dan menerima para pemimpin yang jalan-jalan ke daerah dan desa-desa serta kelurahan.
Terluput dari pawai pemberitaan antara lain tentang bagaimana masyarakat di daerah dan desa-desa,kelurahan kesulitan memasarkan hasil pertanian, karena jalan raya rusak atau tidak ada jalan yang menghubungkan daerah basis pertanian dengan kediaman rakyat dan umat. Pada hal sesungguhnya hasil pertanian menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat, terutama juga untuk membiayai masa depan pendidikan anak-anak. Sekaligus dari hasil pertanian rakyat itu, dapat terantisipasi krisis pangan yang menggelobal bagi Indonesia.
Dalam diri para pemimpin melekat hakekat kemanusiaan sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu sering menampilkan dunia para pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri, kelompok, golongan berdampak merugikan kepentingan sosial.
Sedangkan sebagai makhluk sosial mewarnai dunia para pemimpin mengutamakan kepentingan sosial dengan mengorbankan kepentingan diri dan keluarga, kelompok dan golongan. Walaupun realitas sosial menampilkan dunia para pemimpin lebih diliputi spirit keyakinan nilai purba berselimut nilai modern dengan baju ideologi kapitalis.
Tertampilkan kepentingan diri dan kelompok yang diutamakan, menyederhanakan pemecahan masalah dengan anggaran (uang), tanpa melalui kajian mendalam. Mudah ditebak bahwa terjadi kebocoran anggaran dan KKN tetap terus menggurita.
Namun masyarakat sudah paham bahwa hukum senantiasa belum mampu membantu clean government, karena terjebak dalam pola penegakan tebang pilih yang lebih mengutamakan Kepastian Hukum dengan mengabaikan Kegunaan Hukum. Apalagi wilayah-wilayah kekuasaan yang tidak dapat terjangkau dengan jaring-jaring hukum, bertumbuh subur praktek-praktek kekuasaan yang korup, praktek politik balas budi.
Secara rasional tentu dunia para pemimpin tidak mungkin mengorbankan kepentingan kelompok, apalagi kepentingan diri untuk lebih mengutamakan kepentingan umum. Namun dalam berbangsa dan bernegara telah dikumandangkan jimat “kepentingan umum diletakan di atas kepentingan pribadi dan golongan”.
Jimat yang mengisyaratkan dunia para pemimpin dipenuhi roh tradisional berselimut nilai moderen dengan anyaman ideologi sosialis. Permasalahan bermasyarakat, berbangsa dan berNegara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam berideologi mulai muncul. Apakah bangsa Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945 atas nama Bangsa Indonesia, berideolgi Sosialis atau berideologi Pancasila atau berideologi Kapitalis? Tentu jawabannya Ideologi Pancasila, yang dapat dipahami secara de yure sedangkan de facto belum tentu.
Dalam pelaksanaan pembangunan muncul konsep pembangunan manusia seutuhnya sebagai bentuk pengamalan terhadap Pancasila yang dikedepankan oleh T.B Simatupang. Konsep demikian menghendaki dalam dunia para pemimpin harus mampu untuk menyeimbangkan kepentingan individu, kelompok dengan kepentingan umum dalam pelaksanaan pembangunan.
Dalam arti antara kepentingan diri dan kelompok para pemimpin dengan kepentingan umum harus diseimbangkan. Apabila para pemimpin mampu menyeimbangkan, tentu terimplementasikan kepemimpinan yang bijaksana, kepemimpinan beridelogi Pancasila yang menyeimbangkan ideologi Kapitalis dengan ideologi Sosialis. Penerapan kepemimpinan manusia setengah dewa. Karena kalau kepemimpinan terjerembab dalam pengutamaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga, kelompok dan golongan, maka tentu lebih menghidupkan suasana setan kapitalisme. Begitupun kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan umum dengan mengabaikan kepentingan golongan dan kelompok, bahkan mengorbankan kepentingan diri dan keluarga, maka tentu lebih menghidupkan suasana iblis sosialisme. Di titik keseimbangan, menserasi-selaraskan kapitalisme dengan sosialisme, dapat ditemukan, terjadi pencapaian keadaan kehidupan kemanusiaan Pancasila.
Dengan demikian mungkin tidak akan pernah terjadi polemik yang tidak berkesimpulan: di kalangan elite politik tentang paham ekonomi kerakyatan dengan ekonomi neo liberal, di kalangan elite hukum tentang penenegakan kepastian hukum dengan kegunaan hukum, di dunia demokrasi tentang demokrasi procedural dengan demokrasi substantive, di dunia media-pers tentang informasi kapitalistik dengan informasi sosialistik, di dunia kampus tentang kajian kuantitatif dengan kualitatif.
Pancasila sebagai sebuah ideolgi dengan Lima Sila (KeTuhanan, KeManusiaan, Persatuan, Demokrasi, Keadilan Sosial) muncul di paruh abad 20, tercermati mengandung Nilai Lama (Purba, Tradisional) dan Nilai Baru ( Religius, Moderen). Dengan demikian Pancasila sebagai sebuah ideologi memediasi nilai moderen kapitalis (reinkarnasi nilai purba) dengan nilai moderen sosialis (sublimasi nilai tradisional). Peran keseimbangan demikian tercermati diperankan oleh agama Kristen (Nilai Religius) menengahi nilai Purba dengan nilai Tradisional dalam kehidupan masyarakat abad Pertengahan.
Tampil nilai Religius menawarkan keselamatan akhirat bagi masyarakat Barat di abad Pertengahan, yakni menyeimbangkan kepentingan individu dengan kepentingan sosial, membuka jalan Nilai Modern.
Dalam cermatan jalan Nilai Modern mengiris masyarakat Islam Muhamadyah yang cendrung Kapitalis, penganut kristen yang kapitalis dengan masyarakat Islam Nahdatul Ulama yang cendrung Sosialis. Sedangkan penganut agama lain tercermati sebagai agama tradisi yang hierarkis (Hindu), dengan yang populis (Budha) dan berbagai kepercayaan lama yang mengadaptasi dengan Zaman Modern.
Dalam keterjebakan belenggu Nilai Purba versus Nilai Tradisional, belenggu Ideologi Kapitalis versus Ideologi Sosialis, maka Indonesia tampil Pancasila sebagai Ideologi Tengah. Ideologi yang merekat Kebhinekaan menjadi Tunggal Ika: yakni kebhinekaan agama, suku, keyakinan, daerah dapat bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menandakan manusia dan masyarakat Indonesia sebagai Dunia Mini. Tercermati, Ideologi Tengah (Pancasila) sebagai jalan keseimbangan substansi Nilai Lama dan Nilai Baru, mendamaikan Ideologi Kapitalis dan Ideologi Sosialis. Kini tantangan bagi kualitas diri para pemimpin, mampukah mengimplementasikan Nilai dan Ideologi Pancasila untuk memerdekakan Rakyat dan Masyarakat: dari belenggu Kapitalis dan Neo Liberal, dari belenggu Sosialis dan Neo Komunis?
Artinya dunia para pemimpin tidak boleh memelihara pengutamaan kepentingan diri, kelompok, golongan dan tidak boleh menggunakan kekuasaan secara feodal mengatas-namakan Rakyat dan memanipulasi keberadaan Umat dengan menghalalkan cara. Rakyat dan Umat tidak boleh digunakan lagi sebagai selimut untuk kepentingan diri, kelompok, golongan yang berkuasa.
Dunia para Pemimpin harus bersih dari KKN. Penegakan hukum tidak boleh hanya mengutamakan aspek prosedural (Kepastian Hukum) atau hanya menekankan substansi hukum (Kegunaan Hukum). Melainkan harus menyeimbangkan Kepastian Hukum dengan Kegunaan Hukum demi mencapai Keadilan Hukum.
Berpolitik perlu keseimbangan Demokrasi Prosedural dengan Demokrasi Substantive menuju Keadilan Demokrasi. Praktek Ekonomi Kapitalis diseimbangkan dengan Ekonomi Sosialis, menuju Ekonomi Pancasila. Kehidupan Media Pers sebagai penyalur Informasi, harus menyeimbangkan Informasi Kapitalis dengan Informasi Kerakyatan (Sosialis), sehingga ada balance antara kepentingan Penguasa dengan Rakyat, antara Dunia Usaha dengan Konsumen, antara Pencari Keadilan dan Penegak Keadilan.
Di titik keseimbangan itu mengisyaratkan dunia para pemimpin adalah dunia orang-orang bijak, yang mampu menyeimbangkan dalam setiap upaya serasi-selaraskan kepentingan diri, kelompok, golongan dengan kepentingan umum. Dunia para pemimpin yang sadar menjalankan kewajiban secara baik untuk dapat menerima apa yang benar-benar menjadi hak-nya.
Patut menjadi perenungan para pemimpin: Apakah mau terus terjebak, tetap teranyam dalam Nilai dan Ideologi yang membelenggu? Atau mau mereformasi diri dalam Nilai dan Ideologi yang memerdekakan, memanusiakan? Ideologi yang menserasi-selaraskan Kapitalisme dengan Sosialisme. Ideologi Pancasila telah memerdekakan Bangsa Indonesia, menawarkan kehidupan masyarakat Postmoderen (abad XX —) yang penuh kemanusiaan. Dalam penghormatan hak asasi manusia, gender, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup yang telah menjadi isu dunia (gelobal).
Masyarakat yang penuh keseimbangan antar nilai dan keserasi-selarasan antar ideologi di samping memerlukan dekonstruksi untuk rekonstruksi sesuai perubahan sosial yang kontekstual. Karena itu manusia dan masyarakat kemodern-moderenan memang tidak modern, juga ketradisionalan memang tidak modern, apalagi mengabaikan aspek religius (agama). Begitupun cahaya kereligiusan tetap mengakar ke tradisi dengan terang modern, sehingga aspek religius dapat menjadi keyakinan dan harapan (optimisme) manusia dan masyarakat dalam kegelapan tradisi dan kegulitaan modern. Akhirnya, saya ucapkan selamat berpesta demokrasi untuk kota BauBau dan Provinsi Sulawesi Tenggara dalam momentum suksesi tahun 2012 semoga hasil pemilukada membuahkan para pemimpin yang di dambakan.
Senin, 12 September 2011
La Ode Kamaluddin Sosok Maestro Kabanti Wakatobi
Oleh: Sumiman Udu
Berbicara mengenai kabanti, masyarakat Wakatobi akan teringat dengan nama La Ode Kamaluddin. Siapapun masayarakat Wakatobi, pasti mengetahui La Ode Kamaluddin (La Kamalu) sebagai penyanyi kabanti. Oleh karena itu, untuk melengkapi tulisan tentang kabanti tersebut, maka perlu satu bagian dalam penelitian ini yang mesti membahas La ode Kamaluddin.
3.6.1 Masa Kecil
Sejak kecil, La Ode Kamaluddin tumbuh dalam keluarga yang miskin. Ayahnya yang buta, menjadi salah satu aspek yang membuat keluarga ini menjadi miskin. Mereka tidak mengenyam pendidikan pendidikan yang tinggi. Ia bersaudara beberapa orang, dan semuanya tinggal di rumah gantung yang kecil, beratapkan daun kelapa dan berdindingkan daun kelapa pula.
Lahir di keluarga yang miskin tersebut, membuat La Ode Kamaluddin tidak kehilangan bakatnya sebagai seseorang yang mencintai kabanti. Ia dapat memainkan berbagai jenis musik yang dapat mengiringi kabanti. Kondisi fisik ayah La Ode Kamaluddin (La Ode Mbari) yang buta tidak menghalanginya untuk menjadi pemain gambus. Fisik ayahnya inilah yang memberikan kesempatan yang begitu besar untuk berhubungan dengan alat musik. Hampir setiap hari ayahnya memainkan alat musik gambus dan biola.
Bakat genetic inilah yang melatari kemampuan La Ode Kamaluddin sehingga ia pada akhirnya identik dengan kabanti. Perjalanan hidupnya selalu bersama dengan kabanti. Bahkan menurut La Ode Taufik, ayah La Ode Kamaluddin memiliki kemampuan supranatural untuk mengajarkan kabanti. Dengan meniup tangan muridnya, maka murid yang tidak tahu bermain gambus, dengan cepat akan mampu memainkan alat musik .
Memasuki masa-masa remaja, La Ode Kamaluddin mengalami banyak kendala dalam memperoleh alat-alat musiknya. Namun kegemarannya untuk memainkan musik membuatnya nekat untuk mencuri kayu rita dari kebun salah serang tetangganya. Ceritanya begini, “Suatu waktu saya pergi ke kebun untuk mencari kayu untuk gambus, tetapi karena di kebun tidak ada kayu yang cocok, maka aku melihat sebuah pohon rita di kebun orang, maka saya pun langsung menebang kayu tersebut, lalu akan memotongnya kemudian aku memikulnya ke tempat tukang kayu untuk diolah menjadi gambus.
Beberapa hari kemudian, La Ode Kamaluddin ditemui tetangganya perihal kayu yang ditebangnya di kebunnya tersebut. Tetapi setelah tetangga tersebut mendengarkan musik gambus yang dimainkan oleh La Ode Kamaluddin, maka tetangga itupun sudah mengikhlaskan kayu yang diambil oleh La Ode Kamaluddin, ia mengatakan bahwa, “Seandainya kayu itu kau gunakan untuk hal lain, maka saya akan marah padamu, tetapi karena untuk alat musik ini, maka saya tidak perlu marah karena saya juga senang mendengarkan musik gambusmu .
Maka sejak La Ode Kamaluddin memiliki alat musik itu, ia pun sudah mulai rajin memainkan alat musik itu. Maka mulailah La Ode Kamaluddin ke mana-mana di panggil oleh masyarakat. Mulailah ia dipanggil untuk menghibur orang-orang yang sedang minum arak. Dengan upah, satu cergen lima liter arak ia mendapatkan uang sebesar lima ribu rupiah. Maka mulailah La Ode Kamaluddin terkenal di seputaran Wanci.
Sehubungan dengan jasa La Ode Kamaluddin yang selalu dipakai oleh orang-orang yang minum atau sedang bersilaturahmi, salah seorang tokoh masyarakat Wakatobi yang juga senang terhadap kabanti mengatakan bahwa, “Saya dan teman-temanku dulu selalu memanggil La Ode Kamaluddin untuk menyanyi ketika kami bertemu dengan teman-teman” . Dengan demikian, La Ode Kamaluddin sejak dulu telah hidup dan menghidupkan dengan kabanti di dalam masyarakat pendukungnya.
Sejak ia selalu dipanggil untuk menghibur orang-orang, maka lama-kelamaan tersebarlah informasi ke beberapa desa tentangga akan keahlian La Ode Kamaluddin dalam memainkan musik dan menyanyikan kabanti. Maka mulai saat itulah didirikan group musik yang dipimpin oleh La Damali yang mampu bertahan beberapa tahun.
Jatuh bangunnya groop musik yang dibangun oleh La Ode Kamaluddin sedikit banyak dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan hidup. Kehidupan yang miskin membuatnya harus meninggalkan profesinya sebagai seniman dan ia harus meninggalkan kampung halaman ke rantau. La Ode Kamaluddin harus berangkat ke pulau Seram di Kepulauan Maluku untuk mencari pekerjaan di sana. Maka untuk sementara ia tidak dapat aktif di group bennya.
Sesampai di pulau seram, kesepian membuatnya tidak dapat berdaya. Kerinduan pada teman-temannya, kampung halamannya, group bennya, memaksa La Ode Kamaluddin untuk membuat gambus lagi dari kayu. Karena tanpa gambus, ia tidak akan sempurna menyanyikan teks-teks kabanti. Beberapa hari ia harus membuat gambus itu. Dan setelah ia membuat gambus, maka mulailah ia melantunkan teks-teks kabanti di rantau. Karena ditunjang oleh bakat seni yang tinggi dan penampilan serta wajah yang begitu gagah, maka ketika ia memainkan musik gambus untuk menghibur dirinya dari kegetiran hidup di rantau orang. Pada saat yang bersamaan pun ia sekaligus mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang memang jatuh cinta atas suara musik kabantinya yang indah.
3.6.2 Masa-Masa Berkarya
Sebagai seorang seniman, La Ode Kamaluddin mengalami pasang surut perkembangan dalam hidupnya. Ketidakmampuan secara ekonomi, menyebabkan La Ode Kamaluddin menjalani profesi sebagai musik panggilan. Ia akan selalu dipanggil untuk menyanyi di setiap teman-temannya minum arak . Di samping menghibur di tempat itu, La Ode Kamaluddin juga biasa dipanggil oleh masyarakat untuk menghibur masyarakat di tempat pesta. Satu malam menyanyi biasanya dihargai dengan uang lima puluh ribu sampai dengan seratus lima puluh ribu rupiah.
Perkembangan berkaryanya mulai dari penyanyi panggilan tersebut, kemudian mereka membantuk grop musik di bawah pimpinan La Damali. Beberapa tahun berkarya di dalam grom musik itu, akhirnya La Ode Kamaluddin merantau ke mana-mana, di tempat perantuan ia juga tetap berkarya dan juga membuat group-goup musik baru di perantauan.
Menjalani hidupnya sebagai seniman di tengah masyarakat yang belum mapan secara ekonomi memang sangat sulit. Mengharapkan panggilan teman-temannya yang minum dan panggilan masyarakat yang membutuhkan hiburan di tempat pesta juga tidak menjamin untuk kehidupan seorang seniman seperti La Ode Kamaluddin. Akibatnya, ia menjalani kehidupan petani dan belakangan setelah motor menjadi alternatif hidup yaitu hiduplah La Ode Kamaluddin sebagai tukang ojek. Dalam kehidupannya sebagai tukang ojek inilah, ia banyak berkarya, karena sepuluh tahun terkahir ini, ia menjalani hidup sebagai pemain orjen. Ia pindah-pindah orjen atau tidak menetap pada satu orjen, tetapi dia dipanggil sebagai penyanyi maupun sebagai pemain orjen.
Dapat dikatakan bahwa ia menjalani bakat dan keahliannya sebagai seniman ini dalam kondisi yang sulit. Lama kelamaan, maka La Ode Kamaluddin berkenalan dengan Kausiri seorang pengusaha asal Wanci yang bertempat tinggal di Surabaya. Maka sejak itulah, La Ode Kamaluddin banyak melakukan penggubahan lagu-lagu yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi. Sehingga nyaris saja ia dituntut oleh produsen kaset yang arasemen musiknya dibajak.
Tidak berhenti di situ, ia mulai menggubah lagu-lagu Wanci (Wakatobi) dengan arasemen sendiri . Maka beberapa tahun yang lalu kaset-kaset tape La Ode Kamaluddin meledak di kalangan orang Wakatobi, baik yang ada di Wakatobi maupun yang berada di luar Wakatobi, seperti di kepualaun Maluku, Papua dan bahwa masyarakat Wakatobi di sebalah barat Indonesia yaitu mereka yang menetap di daerah Jawa, Tanjung Pinang serta beberapa daerah komunitas masyarakat Wakatobi di luar negeri, yaitu Malaysia dan Sinagapure.
Di samping membuat arasemen musik kabanti dalam bentuk musik dangdut, ia juga melakukan arasemen musik kabanti dengan menggunakan alat musik biola dan gambus. Karya-karyanya yang berhubungan dengan musik kabanti ini yang pada akhirnya pada festival Asosiasi Tradisi Lisan menyelenggarakan kegiatan di Jakarta tahun Desembar 2007 yang lalu, atas bantuan pemerintah kabupaten Wakatobi, ia dan kakaknya mampu mementaskan kabanti dengan irama musik gambus di dalam acara internasional tersebut.
Akibatnya, La Ode Kamaluddin semakin di kenal oleh pemerintah daerah. Maka sejak tahun yang lalu, ia sudah dipekerjakan di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi. Dulunya La Ode Kamaluddin bekerja sebagai tukang ojek di Wakatobi.
3.6.3 La Ode Kamaluddin dan Tradisi Lisan Kabanti
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa “Dialah seorang pahlawan” dalam menghidupkan kembali tradisi lisan Wakatobi. Betapa tidak, di tengah serbuan berbagai musik modern yang kemas dalam berbagai media. Tetapi berkat gambus dan biolanya, generasi muda Wakatobi masih tetap menikmati kabanti sebagai warisan leluhurnya. Memang, di dalam masyarakat masih tetap ada masyarakat yang melantunkan kabanti sebagai pengantar tidur, tetapi itu akan mulai tergeser oleh hadirnya musik-musik baru. Musik impor bagi masyarakat Wakatobi.
Sebelum terlalu jauh kita membahas keberadaan La Ode Kamaluddin, perlu kita mengenal orang-orang Wakatobi yang memiliki jasa dalam mempopulerkan kabanti, antara lain La Ode Umuri Bolu, La ode Adili (Album apa? Tahun berapa?), La Huudu, La Pedu, La Mbongo dan lain-lain. Sementara di dalam tradisi bue-bue mereka yang masih tetap bertahan dalam melantunkan kabanti adalah Wa Bedja, Wa Yai, Wa Radi, Wa Ina Nii, Wa Sule, Wa Siti, dan beberapa ibu-ibu usia tua.
Dalam karyanya Hune dan Wa Nianse La Ode Umuri Bolu mengisahkan kisah cintanya di masa kecil. Kisah cinta itu digubahnya dalam bentuk kabanti dengan arasemen musik kabanti modifikasi. Kemudian La Ode Adili, juga meluncurkan albumnya dengan mencampurkan arasemen musiknya yakni sebagian lagunya berlirikan kabanti dan sebagain lagi menggunakan arasemen musik dangdut modern.
Sementara La Huudu, La Pedu dan La Mbongo yang sampai hari ini juga masih tetap aktif sebagai penyanyi kabanti mereka belum mengeluarkan satu album pun, walaupun musik-musik mereka hampir memenuhi nada dering telepon genggam masyarakat Wakatobi. Banyak rekaman-rekaman melalui hand phone ketika La Mbongo dan La Huudu melantunkan kabanti. Mereka juga tetap memiliki andil dalam rangka menjaga kelestarian kabanti di dalam masyarakat Wakatobi.
Keterlibatan masyarakat Wakatobi dalam mempertahankan tradisi lisan kabanti untuk tetap eksis di dalam masyarakat sangat besar, tetapi ke hadiran tokoh-tokoh tradisi lisan kabanti tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan La Ode Kamaluddin sebagai penyanyi kabanti. Karena di tengah-tengah serbuan musik modern, ia tetap konsentrasi dalam mengembangkan musik-musik kabanti. Terkadang juga La Ode Kamaluddin berperan sebagai penggubah musik-musik yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi atau bahasa Kepulauan Tukang Besi.
Dalam kehadirannya sebagai pewaris dan penyelamat tradisi lisan kabanti, La Ode Kamaluddin telah berjasa dalam mempopulerkan kabanti kepada generasi baru Wakatobi dan dunia internasional. Ia telah menyanyikan kabanti dari satu pesta ke tempat pesta yang lain, dari tempat paradaka ke tempat paradaka yang lain. Ia melantunkan kabanti dari waktu ke waktu.
Puncak karyanya dalam mempopulerkan kabanti, adalah ketika menyanyikan kabanti dalam Vestifal Tradisi Lisan Nusantara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan di Taman Ismail Marzuki tahun 2007 yang lalu. Kemudian ia kembali sosialisasikan tradisi lisan kabanti di acara yang sama pada tanggal 1 – 3 Desember 2008 di Kabupetan Wakatobi.
Kehadiran La Ode Kamaluddin di kancah vestifal tradisi lisan internasional ini, memungkinkan kabanti dapat masuk sebagai salah satu kesenian teradisional yang ada di dunia. Oleh karena itu, La Ode Kamaluddin sebagai pewaris dan penyelemat musik tradisional kabanti perlu mendapatkan apresiasi yang baik dari pemerintah. Karena beliaulah yang menjadi salah satu pewaris dan penyelamat musik tradisi di tengah serbuan budaya global.
Menyikapi prestasi La Ode Kamaluddin tersebut, Pemerintah Kabupaten Wakatobi melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata kabupaten Wakatobi, mengangkat La Ode Kamaluddin dan kakaknya sebagai tenaga harian di dinas tersebut. Dengan demikian, pemerintah kabupaten Wakatobi memiliki perhatian positif dalam rangka pengembangan kabanti sebagai salah satu roh kesenian yang ada di dalam masyarakat Wakatobi.
Tentunya, apresiasi itu belum cukup untuk seorang La Ode Kamaluddin, karena prestasi beliu harus diapresiasi oleh dunia inernasional dengan memberikan kepada beliau gelar Maestro Kabanti, yang tentunya akan setara perhatian dunia terhadap kabanti sebagai bagian dari kesenian dunia yang tidak kalah dengan kesenian yang lain yang ada di dunia.
Bahkan sejak tahun 2008 yang lalu, pemerintah kabupaten Wakatobi telah merencanakan pembangunan gedung kesenian yang rencananya akan dilatih oleh mereka yang berbakat seperti La Ode Kamaluddin. Ini semua perlu mendapatkan apresiasi dari masyarakat Wakatobi, karena pemerintah daerah kabupaten Wakatobi telah mengeluarkan dana miliyaran rupiah untuk pengembangan kesenian di dalam masyarakat Wakatobi yang menjadikan Dinas Kebudayan dan Pariwisata sebagai salah satu leading sector pembangunannya di masa yang akan datang.
Berbicara mengenai kabanti, masyarakat Wakatobi akan teringat dengan nama La Ode Kamaluddin. Siapapun masayarakat Wakatobi, pasti mengetahui La Ode Kamaluddin (La Kamalu) sebagai penyanyi kabanti. Oleh karena itu, untuk melengkapi tulisan tentang kabanti tersebut, maka perlu satu bagian dalam penelitian ini yang mesti membahas La ode Kamaluddin.
3.6.1 Masa Kecil
Sejak kecil, La Ode Kamaluddin tumbuh dalam keluarga yang miskin. Ayahnya yang buta, menjadi salah satu aspek yang membuat keluarga ini menjadi miskin. Mereka tidak mengenyam pendidikan pendidikan yang tinggi. Ia bersaudara beberapa orang, dan semuanya tinggal di rumah gantung yang kecil, beratapkan daun kelapa dan berdindingkan daun kelapa pula.
Lahir di keluarga yang miskin tersebut, membuat La Ode Kamaluddin tidak kehilangan bakatnya sebagai seseorang yang mencintai kabanti. Ia dapat memainkan berbagai jenis musik yang dapat mengiringi kabanti. Kondisi fisik ayah La Ode Kamaluddin (La Ode Mbari) yang buta tidak menghalanginya untuk menjadi pemain gambus. Fisik ayahnya inilah yang memberikan kesempatan yang begitu besar untuk berhubungan dengan alat musik. Hampir setiap hari ayahnya memainkan alat musik gambus dan biola.
Bakat genetic inilah yang melatari kemampuan La Ode Kamaluddin sehingga ia pada akhirnya identik dengan kabanti. Perjalanan hidupnya selalu bersama dengan kabanti. Bahkan menurut La Ode Taufik, ayah La Ode Kamaluddin memiliki kemampuan supranatural untuk mengajarkan kabanti. Dengan meniup tangan muridnya, maka murid yang tidak tahu bermain gambus, dengan cepat akan mampu memainkan alat musik .
Memasuki masa-masa remaja, La Ode Kamaluddin mengalami banyak kendala dalam memperoleh alat-alat musiknya. Namun kegemarannya untuk memainkan musik membuatnya nekat untuk mencuri kayu rita dari kebun salah serang tetangganya. Ceritanya begini, “Suatu waktu saya pergi ke kebun untuk mencari kayu untuk gambus, tetapi karena di kebun tidak ada kayu yang cocok, maka aku melihat sebuah pohon rita di kebun orang, maka saya pun langsung menebang kayu tersebut, lalu akan memotongnya kemudian aku memikulnya ke tempat tukang kayu untuk diolah menjadi gambus.
Beberapa hari kemudian, La Ode Kamaluddin ditemui tetangganya perihal kayu yang ditebangnya di kebunnya tersebut. Tetapi setelah tetangga tersebut mendengarkan musik gambus yang dimainkan oleh La Ode Kamaluddin, maka tetangga itupun sudah mengikhlaskan kayu yang diambil oleh La Ode Kamaluddin, ia mengatakan bahwa, “Seandainya kayu itu kau gunakan untuk hal lain, maka saya akan marah padamu, tetapi karena untuk alat musik ini, maka saya tidak perlu marah karena saya juga senang mendengarkan musik gambusmu .
Maka sejak La Ode Kamaluddin memiliki alat musik itu, ia pun sudah mulai rajin memainkan alat musik itu. Maka mulailah La Ode Kamaluddin ke mana-mana di panggil oleh masyarakat. Mulailah ia dipanggil untuk menghibur orang-orang yang sedang minum arak. Dengan upah, satu cergen lima liter arak ia mendapatkan uang sebesar lima ribu rupiah. Maka mulailah La Ode Kamaluddin terkenal di seputaran Wanci.
Sehubungan dengan jasa La Ode Kamaluddin yang selalu dipakai oleh orang-orang yang minum atau sedang bersilaturahmi, salah seorang tokoh masyarakat Wakatobi yang juga senang terhadap kabanti mengatakan bahwa, “Saya dan teman-temanku dulu selalu memanggil La Ode Kamaluddin untuk menyanyi ketika kami bertemu dengan teman-teman” . Dengan demikian, La Ode Kamaluddin sejak dulu telah hidup dan menghidupkan dengan kabanti di dalam masyarakat pendukungnya.
Sejak ia selalu dipanggil untuk menghibur orang-orang, maka lama-kelamaan tersebarlah informasi ke beberapa desa tentangga akan keahlian La Ode Kamaluddin dalam memainkan musik dan menyanyikan kabanti. Maka mulai saat itulah didirikan group musik yang dipimpin oleh La Damali yang mampu bertahan beberapa tahun.
Jatuh bangunnya groop musik yang dibangun oleh La Ode Kamaluddin sedikit banyak dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan hidup. Kehidupan yang miskin membuatnya harus meninggalkan profesinya sebagai seniman dan ia harus meninggalkan kampung halaman ke rantau. La Ode Kamaluddin harus berangkat ke pulau Seram di Kepulauan Maluku untuk mencari pekerjaan di sana. Maka untuk sementara ia tidak dapat aktif di group bennya.
Sesampai di pulau seram, kesepian membuatnya tidak dapat berdaya. Kerinduan pada teman-temannya, kampung halamannya, group bennya, memaksa La Ode Kamaluddin untuk membuat gambus lagi dari kayu. Karena tanpa gambus, ia tidak akan sempurna menyanyikan teks-teks kabanti. Beberapa hari ia harus membuat gambus itu. Dan setelah ia membuat gambus, maka mulailah ia melantunkan teks-teks kabanti di rantau. Karena ditunjang oleh bakat seni yang tinggi dan penampilan serta wajah yang begitu gagah, maka ketika ia memainkan musik gambus untuk menghibur dirinya dari kegetiran hidup di rantau orang. Pada saat yang bersamaan pun ia sekaligus mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang memang jatuh cinta atas suara musik kabantinya yang indah.
3.6.2 Masa-Masa Berkarya
Sebagai seorang seniman, La Ode Kamaluddin mengalami pasang surut perkembangan dalam hidupnya. Ketidakmampuan secara ekonomi, menyebabkan La Ode Kamaluddin menjalani profesi sebagai musik panggilan. Ia akan selalu dipanggil untuk menyanyi di setiap teman-temannya minum arak . Di samping menghibur di tempat itu, La Ode Kamaluddin juga biasa dipanggil oleh masyarakat untuk menghibur masyarakat di tempat pesta. Satu malam menyanyi biasanya dihargai dengan uang lima puluh ribu sampai dengan seratus lima puluh ribu rupiah.
Perkembangan berkaryanya mulai dari penyanyi panggilan tersebut, kemudian mereka membantuk grop musik di bawah pimpinan La Damali. Beberapa tahun berkarya di dalam grom musik itu, akhirnya La Ode Kamaluddin merantau ke mana-mana, di tempat perantuan ia juga tetap berkarya dan juga membuat group-goup musik baru di perantauan.
Menjalani hidupnya sebagai seniman di tengah masyarakat yang belum mapan secara ekonomi memang sangat sulit. Mengharapkan panggilan teman-temannya yang minum dan panggilan masyarakat yang membutuhkan hiburan di tempat pesta juga tidak menjamin untuk kehidupan seorang seniman seperti La Ode Kamaluddin. Akibatnya, ia menjalani kehidupan petani dan belakangan setelah motor menjadi alternatif hidup yaitu hiduplah La Ode Kamaluddin sebagai tukang ojek. Dalam kehidupannya sebagai tukang ojek inilah, ia banyak berkarya, karena sepuluh tahun terkahir ini, ia menjalani hidup sebagai pemain orjen. Ia pindah-pindah orjen atau tidak menetap pada satu orjen, tetapi dia dipanggil sebagai penyanyi maupun sebagai pemain orjen.
Dapat dikatakan bahwa ia menjalani bakat dan keahliannya sebagai seniman ini dalam kondisi yang sulit. Lama kelamaan, maka La Ode Kamaluddin berkenalan dengan Kausiri seorang pengusaha asal Wanci yang bertempat tinggal di Surabaya. Maka sejak itulah, La Ode Kamaluddin banyak melakukan penggubahan lagu-lagu yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi. Sehingga nyaris saja ia dituntut oleh produsen kaset yang arasemen musiknya dibajak.
Tidak berhenti di situ, ia mulai menggubah lagu-lagu Wanci (Wakatobi) dengan arasemen sendiri . Maka beberapa tahun yang lalu kaset-kaset tape La Ode Kamaluddin meledak di kalangan orang Wakatobi, baik yang ada di Wakatobi maupun yang berada di luar Wakatobi, seperti di kepualaun Maluku, Papua dan bahwa masyarakat Wakatobi di sebalah barat Indonesia yaitu mereka yang menetap di daerah Jawa, Tanjung Pinang serta beberapa daerah komunitas masyarakat Wakatobi di luar negeri, yaitu Malaysia dan Sinagapure.
Di samping membuat arasemen musik kabanti dalam bentuk musik dangdut, ia juga melakukan arasemen musik kabanti dengan menggunakan alat musik biola dan gambus. Karya-karyanya yang berhubungan dengan musik kabanti ini yang pada akhirnya pada festival Asosiasi Tradisi Lisan menyelenggarakan kegiatan di Jakarta tahun Desembar 2007 yang lalu, atas bantuan pemerintah kabupaten Wakatobi, ia dan kakaknya mampu mementaskan kabanti dengan irama musik gambus di dalam acara internasional tersebut.
Akibatnya, La Ode Kamaluddin semakin di kenal oleh pemerintah daerah. Maka sejak tahun yang lalu, ia sudah dipekerjakan di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi. Dulunya La Ode Kamaluddin bekerja sebagai tukang ojek di Wakatobi.
3.6.3 La Ode Kamaluddin dan Tradisi Lisan Kabanti
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa “Dialah seorang pahlawan” dalam menghidupkan kembali tradisi lisan Wakatobi. Betapa tidak, di tengah serbuan berbagai musik modern yang kemas dalam berbagai media. Tetapi berkat gambus dan biolanya, generasi muda Wakatobi masih tetap menikmati kabanti sebagai warisan leluhurnya. Memang, di dalam masyarakat masih tetap ada masyarakat yang melantunkan kabanti sebagai pengantar tidur, tetapi itu akan mulai tergeser oleh hadirnya musik-musik baru. Musik impor bagi masyarakat Wakatobi.
Sebelum terlalu jauh kita membahas keberadaan La Ode Kamaluddin, perlu kita mengenal orang-orang Wakatobi yang memiliki jasa dalam mempopulerkan kabanti, antara lain La Ode Umuri Bolu, La ode Adili (Album apa? Tahun berapa?), La Huudu, La Pedu, La Mbongo dan lain-lain. Sementara di dalam tradisi bue-bue mereka yang masih tetap bertahan dalam melantunkan kabanti adalah Wa Bedja, Wa Yai, Wa Radi, Wa Ina Nii, Wa Sule, Wa Siti, dan beberapa ibu-ibu usia tua.
Dalam karyanya Hune dan Wa Nianse La Ode Umuri Bolu mengisahkan kisah cintanya di masa kecil. Kisah cinta itu digubahnya dalam bentuk kabanti dengan arasemen musik kabanti modifikasi. Kemudian La Ode Adili, juga meluncurkan albumnya dengan mencampurkan arasemen musiknya yakni sebagian lagunya berlirikan kabanti dan sebagain lagi menggunakan arasemen musik dangdut modern.
Sementara La Huudu, La Pedu dan La Mbongo yang sampai hari ini juga masih tetap aktif sebagai penyanyi kabanti mereka belum mengeluarkan satu album pun, walaupun musik-musik mereka hampir memenuhi nada dering telepon genggam masyarakat Wakatobi. Banyak rekaman-rekaman melalui hand phone ketika La Mbongo dan La Huudu melantunkan kabanti. Mereka juga tetap memiliki andil dalam rangka menjaga kelestarian kabanti di dalam masyarakat Wakatobi.
Keterlibatan masyarakat Wakatobi dalam mempertahankan tradisi lisan kabanti untuk tetap eksis di dalam masyarakat sangat besar, tetapi ke hadiran tokoh-tokoh tradisi lisan kabanti tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan La Ode Kamaluddin sebagai penyanyi kabanti. Karena di tengah-tengah serbuan musik modern, ia tetap konsentrasi dalam mengembangkan musik-musik kabanti. Terkadang juga La Ode Kamaluddin berperan sebagai penggubah musik-musik yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi atau bahasa Kepulauan Tukang Besi.
Dalam kehadirannya sebagai pewaris dan penyelamat tradisi lisan kabanti, La Ode Kamaluddin telah berjasa dalam mempopulerkan kabanti kepada generasi baru Wakatobi dan dunia internasional. Ia telah menyanyikan kabanti dari satu pesta ke tempat pesta yang lain, dari tempat paradaka ke tempat paradaka yang lain. Ia melantunkan kabanti dari waktu ke waktu.
Puncak karyanya dalam mempopulerkan kabanti, adalah ketika menyanyikan kabanti dalam Vestifal Tradisi Lisan Nusantara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan di Taman Ismail Marzuki tahun 2007 yang lalu. Kemudian ia kembali sosialisasikan tradisi lisan kabanti di acara yang sama pada tanggal 1 – 3 Desember 2008 di Kabupetan Wakatobi.
Kehadiran La Ode Kamaluddin di kancah vestifal tradisi lisan internasional ini, memungkinkan kabanti dapat masuk sebagai salah satu kesenian teradisional yang ada di dunia. Oleh karena itu, La Ode Kamaluddin sebagai pewaris dan penyelemat musik tradisional kabanti perlu mendapatkan apresiasi yang baik dari pemerintah. Karena beliaulah yang menjadi salah satu pewaris dan penyelamat musik tradisi di tengah serbuan budaya global.
Menyikapi prestasi La Ode Kamaluddin tersebut, Pemerintah Kabupaten Wakatobi melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata kabupaten Wakatobi, mengangkat La Ode Kamaluddin dan kakaknya sebagai tenaga harian di dinas tersebut. Dengan demikian, pemerintah kabupaten Wakatobi memiliki perhatian positif dalam rangka pengembangan kabanti sebagai salah satu roh kesenian yang ada di dalam masyarakat Wakatobi.
Tentunya, apresiasi itu belum cukup untuk seorang La Ode Kamaluddin, karena prestasi beliu harus diapresiasi oleh dunia inernasional dengan memberikan kepada beliau gelar Maestro Kabanti, yang tentunya akan setara perhatian dunia terhadap kabanti sebagai bagian dari kesenian dunia yang tidak kalah dengan kesenian yang lain yang ada di dunia.
Bahkan sejak tahun 2008 yang lalu, pemerintah kabupaten Wakatobi telah merencanakan pembangunan gedung kesenian yang rencananya akan dilatih oleh mereka yang berbakat seperti La Ode Kamaluddin. Ini semua perlu mendapatkan apresiasi dari masyarakat Wakatobi, karena pemerintah daerah kabupaten Wakatobi telah mengeluarkan dana miliyaran rupiah untuk pengembangan kesenian di dalam masyarakat Wakatobi yang menjadikan Dinas Kebudayan dan Pariwisata sebagai salah satu leading sector pembangunannya di masa yang akan datang.
Kamis, 07 Oktober 2010
Kunjungan Keluarga ke Pantai Nambo
Salah satu cara untuk menikmati hidup adalah dengan membiarkan diri menyatu dengan alam. inilah saat-saat indah bersama di pantai Nambo, salah satu Destinasi wisata di Kota Kendari.
Kondisi jarak yang dekat antara Pantai Nambo dengan Kota Kendari menyebabkan kami dapat menikmati pemberian Tuhan ini dengan mudah. Anda juga dapat menikmatinya.
Indahnya Berenang di Wakatobi
TRADISI LISAN KABANTI: FUNGSI DAN PERANNYA DALAM MASYARAKAT WAKATOBI
Oleh : Sumiman Udu, S.Pd., M.Hum.
ABSTRAK
Tradisi lisan kaбanti merupakan salah satu bentuk puisi yang paling banyak berkembang dalam masyarakat Wakatobi dan Buton pada umumnya. Kaбanti lahir dan berkembang secara turun-temurun sebagai salah satu kesenian, maupun sebagai bagian dari berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Wakatobi. Sehingga kaбanti merupakan rumah kebudayaan masyarakat Wakatobi. Di sisi yang lain, perkembangan berbagai kesenian modern, menyebabkan tradisi lisan kaбanti berada pada posisi yang mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena masyarakat Wakatobi dewasa ini tidak lagi memahami fungsi dan peran kaбanti sebagai penanda identitas dan rumah kebudayaannya.
Penelitian ini dilakukan dengan mengamati berbagai performansi kaбanti yang ada dalam masyarakat Wakatobi, yang dilengkapi dengan wawancara. Wawancara dilakukan dengan penyanyi kaбanti dan tokoh-tokoh masyarakat yang memahami adat dan budaya masyarakat Wakatobi. Data dari lapangan ditranskripsi dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif untuk menguraikan fungsi dan peran kaбanti dalam masyarakat Wakatobi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam masyarakat Wakatobi ditemukan beberapa fungsi dan peran kaбanti yaitu: a) berfungsi sebagai hiburan, b) alat untuk menyampaikan nasihat keagamaan; c) sebagai ingatan kolektif masyarakat tentang suatu peristiwa; d) sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak dengan bahasa-bahasa yang bernilai tinggi; e) sebagai penghalus budi, penghalus rasa; f) sebagai sarana transfer budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya; g) sebagai pembangkit semangat; h) sebagai alat untuk memelihara sejarah setempat; i) sebagai alat protes sosial, yaitu memprotes ketidakadilan di dalam masyarakat. Selanjutnya, peran kaбanti dalam masyarakat Wakatobi sebagai berikut, yaitu (1) sebagai pengantar tidur, (2) sarana pengungkapan perasaan muda-mudi (pobanti), (3) bagian acara adat (kadandio), (4) penenang orang sakit (бae-бae), dan (5) nyanyian kerja. Selain itu, ada juga kaбanti yang dinyanyikan sebagai pengantar tarian atau bagian dari tarian, misalnya kaбanti yang menjadi bagian dari performansi tari lariangi, performansi tari pajoge, dan performansi tari kenta-kenta.
Kata kunci: tradisi lisan kaбanti, fungsi, peran, masyarakat Wakatobi.
ABSTRAK
Tradisi lisan kaбanti merupakan salah satu bentuk puisi yang paling banyak berkembang dalam masyarakat Wakatobi dan Buton pada umumnya. Kaбanti lahir dan berkembang secara turun-temurun sebagai salah satu kesenian, maupun sebagai bagian dari berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Wakatobi. Sehingga kaбanti merupakan rumah kebudayaan masyarakat Wakatobi. Di sisi yang lain, perkembangan berbagai kesenian modern, menyebabkan tradisi lisan kaбanti berada pada posisi yang mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena masyarakat Wakatobi dewasa ini tidak lagi memahami fungsi dan peran kaбanti sebagai penanda identitas dan rumah kebudayaannya.
Penelitian ini dilakukan dengan mengamati berbagai performansi kaбanti yang ada dalam masyarakat Wakatobi, yang dilengkapi dengan wawancara. Wawancara dilakukan dengan penyanyi kaбanti dan tokoh-tokoh masyarakat yang memahami adat dan budaya masyarakat Wakatobi. Data dari lapangan ditranskripsi dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif untuk menguraikan fungsi dan peran kaбanti dalam masyarakat Wakatobi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam masyarakat Wakatobi ditemukan beberapa fungsi dan peran kaбanti yaitu: a) berfungsi sebagai hiburan, b) alat untuk menyampaikan nasihat keagamaan; c) sebagai ingatan kolektif masyarakat tentang suatu peristiwa; d) sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak dengan bahasa-bahasa yang bernilai tinggi; e) sebagai penghalus budi, penghalus rasa; f) sebagai sarana transfer budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya; g) sebagai pembangkit semangat; h) sebagai alat untuk memelihara sejarah setempat; i) sebagai alat protes sosial, yaitu memprotes ketidakadilan di dalam masyarakat. Selanjutnya, peran kaбanti dalam masyarakat Wakatobi sebagai berikut, yaitu (1) sebagai pengantar tidur, (2) sarana pengungkapan perasaan muda-mudi (pobanti), (3) bagian acara adat (kadandio), (4) penenang orang sakit (бae-бae), dan (5) nyanyian kerja. Selain itu, ada juga kaбanti yang dinyanyikan sebagai pengantar tarian atau bagian dari tarian, misalnya kaбanti yang menjadi bagian dari performansi tari lariangi, performansi tari pajoge, dan performansi tari kenta-kenta.
Kata kunci: tradisi lisan kaбanti, fungsi, peran, masyarakat Wakatobi.
Jumat, 14 Mei 2010
Buton dalam Mitologi, Ideologi, dan Ilmu Pengetahuan
Abastrac
Buton sebagai salah satu kesultanan yang ada di Nusantara, telah mengalami berbagai pergolakan pemikiran, mulai dari pemikiran yang mitologi, ideologi, sampai pada pemikiran berbasis ilmu pengetahuan. Namun, akhirnya Buton tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada, hal ini disebabkan karena masyarakat Buton tidak dapat melepaskan diri dari aspek mitologi yang membuat mereka tidak rasional, tetapi penuh dengan irasional, tidak objektif, dan kemudian Buton dipecah belah oleh pemikiran ideologis yang juga tidak rasional dan objektif, Buton kehilangan aspek epistemology sebagai ruang untuk melakukan objektivitas dalam segala langkah.
Kajian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan fenomenologis untuk melihat dinamika kebudayaan masyarakat Buton.
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa masyarakat Buton sampai hari ini masih dipengaruhi oleh aspek mitologi dan ideologi, sehingga masyarakat Buton tidak dapat berkembang menuju kemajuan sebagaimana beberapa daerah kesultanan yang ada di Nusantara dan dunia. Sementara kajayaan Buton di masa pemeritahan Muhamad Idrus Kaimuddin, saat ini ditinggalkan oleh masyarakat Buton sendiri.
kata kunci: Buton, mitologi, ideologi, ilmu pengetahuan
A. Pengantar
Buton sebagai salah satu Kesultanan yang ada di Nusantara, merupakan salah satu negeri atau bangsa yang trauma dalam sejarah (Zuhdi, 1999). Buton kehilangan konsepsi hidupnya selama berpuluh-puluh tahun. Buton tidak lagi mengenal dirinya, Buton terselimuti oleh mitologi dan ideologi, sehingga bangsa Buton kehilangan identitas dirinya sebagai bangsa yang memiliki dan mengagumi ilmu pengetahuan.
Perjalanan bangsa Buton pernah memasuki masa keemasannya yaitu pada masa pemerintahan Sultan Muhamad Idrus Kaimuddin. Ilmu Pengetahuan menjadi dasar dalam sistem pemerintahannya. Tidak salah kalau pada masa lalu kita mengenal ungkapan “Wolio siy mangkidi-kidi, kabongka-bongkana dunia”. Ungkapan leluhur Buton atas kebesaran bangsa Buton di atas, terlihat dari tingginya pergolakan ilmu pengetahuan di negeri ini . Penyebutan Buton sebagai pusat ilmu pengetahuan di masa lalu juga masih dapat ditelusuri dari banyaknya buah-buah pikiran leluhur kita yang tersimpan di dalam berbagai naskah. Hampir semua aspek kehidupan telah dibahas dalam naskah: pemerintahan, politik, pendidikan, persoalan perempuan, seks dan lain-lainnya.
Namun ungkapan tentang kebesaran Buton itu, hari ini perlu direfleksi kembali. Jangan sampai Buton kembali masuk ke dalam tahapan pemikiran mitologi, dan ideologi yang justru membawa Buton kepada masa kegelapan yang berdampak pada adanya perbedaan pandangan idiologis dalam masyarakat Buton sendiri. Sedanglan dalam sejarahnya, Buton telah mengalami tahapan berpikir ilmu pengetahuan yang membawa Buton pada masa keemasan di masa Muhamad Idrus Kaimuddin dan Syeh Haji Abdul Ganiu.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Buton dalam bingkai berpikir mitologi, ideology, dan ilmu pengetahuan, maka tulisan ini dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka (naskah dan beberapa referensi lainnya) dimaksudkan untuk mengetahui berbagai informasi mengenai sepek mitologi, ideologi dan ilmu pengetahuan di masa kesultanan Buton, sedangkan pengamatan dan wawancara dilakukan untuk mengetahui adat dan budaya Buton yang ada dalam masyarakat Buton dewasa ini. Selanjutnya data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan perkembangan tahap-tahap pemikiran bangsa Buton di masa lalu dan hari ini.
B. Buton dalam Tahapan Pemikiran Mitologi
Dalam masyarakat Buton, tahapan pemikiran mitologi ini berlangsung sebelum abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Menurut Kuntowijoyo (Dahlan dalam Ma’arif, 2005: 25-26), mitos adalah suatu konsep tentang kenyataan yang mengandaikan bahwa dunia pengalaman kita sehari-hari terus-menerus disusupi oleh kekuatan-kekuatan keramat. Sistem pemikiran mitos ini ditandai cara berpikir pralogis (mistis) yang mengambil bentuk magis, pemberontakan dengan lokasi pedesaan, bersifat lokal, berlatar belakang ekonomi agraris masyarakat petani, solidaritas mekanis yang biasanya digerakan oleh model kepemimpinan seorang tokoh kharismatik.
Dalam sejarah perjalanan bangsa Buton, mitos jauh lebih jauh dari pada sejarah Buton sendiri. Cerita mengenai kelahiran Ratu Wa Kaaka merupakan salah satu contoh fiksi yang melatari lahirnya bangsa Buton yang berbaur dengan sejarah. Walaupun sejarah kehadiran Ratu Wakaaka berdasarkan fakta sejarah, tetapi masih disimpan dalam bingkai fiksi, legenda. Itulah pasal yang menjadi sebab mengapa fakta sejarah dalam mitos tapil dengan wadak yang terlampau samar dan sumir.
Sebagaimana disebutkan di atas, di awal-awal pertama tumbuhnya kerajaan Buton, sebagaimana kerajaan-kerajaan lain di dunia, semua memiliki mitos untuk membesarkan rajanya. Tersebutlah kisah raja-raja yang berasal dari buih, dari kahyangan, atau raja-raja yang datang dari tumbuhan. Dalam konteks itu, raja Buton pertama Ratu Wa Kaaka dimitoskan lahir dari bambu. Dan dari hasil perkawinananya dengan Si Batara yang merupakan laki-laki yang ditemukan di laut lahirlah Bulawambona (bdk. Zahari, 1977/1978; Zaenu, 1984).
Dunia mitologi ini, bagi bangsa Buton di zamannya, merupakan suatu yang harus ada dalam mendukung nilai kharismatik dari sang ratu, sebab jika ratu itu berasal dari manusia biasa, maka ia tidak akan memiliki kharismatik (Naskah Hikayat Negeri Buton). Maka untuk kepentingan itulah, mitologi dibutuhkan dalam kerajaan Buton dan kerajaan-kerajaan lain yang ada di dunia. Namun, tahapan berpikir mitologi itu, sudah ditinggalkan oleh bangsa-bangsa lain yang ada di dunia, sementara bangsa Buton sampai hari ini masih menggunakan cara berpikir mitologi dan menganggap bahwa kehidupan sehari-hari mereka selalu dipengaruhi oleh aspek-aspek mistis dan supranatural, akibatnya bangsa Buton terlambat untuk maju jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang telah bergeser ke dalam tahapan berpikir ilmu pengetahuan dan teknologi.
Memang mitos bukan hanya produk masyarakat tradisional, tetapi dalam dunia modern pun masih tetap menggunakan aspek mitos, dan disinilah perlunya kesadaran baru bagi masyarakat Buton bahwa pentingnya untuk berpikir dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan yang objektif dan rasional. Dalam masyarakat Buton dewasa ini, sebagain masyarakat masih memiliki cara berpikir yang diselimuti oleh cara berpikir mitologi yang masih dipengaruhi oleh mitos-mitos lama.
Akibatnya, di era digital seperti ini, bangsa Buton mengalami kemerosotan cara berpikir. Bangsa Buton hampir tidak dapat melepaskan diri dari pola pikir mitologi, yang berdampak pada etos kerja mereka yang irasional dan tidak objektif, tetapi masih tetap terselimuti oleh mitos-mitos yang selama ini diyakininya sebagai bagian sejarah yang menguntungkan mereka. beberapa contoh dari cara berpikir mitologi itu adalah adanya penonjolan identitas yang ada dalam kalangan Buton. Mereka hanya mempertentangkan persoalan strata sosial, ‘ode’ dan bukan ‘ode’, karena mereka menganggap bahwa gelar itu merupakan sarana untuk mendapatkan kharismatik di dalam masyarakat. Lebih-lebih Belanda dengan metode politik belah bambunya berusaha untuk mengaburkan pola pikir Buton yang ilmiah dalam tatanan kehidupan mereka, misalnya ukuruan manusia Buton dalam martabat tujuh. Sementara di sisi yang lain, sebagian masyarakat Buton yang tidak menggunakan gelar itu akan terus-menerus melawan, pada hal saat ini, yang terpenting bagi bangsa Buton adalah kinerja dan profesionalisme.
Tidak semua yang disebut mitos itu salah dalam kehidupan manusia, tetapi seluruh hal-hal yang berbau mitologi harus mampu dijelaskan dengan pendekatan-pendekatan ilmu pengetahuan, karena dalam ilmu inilah bangsa Buton harus berada dalam realitas, walaupun tidak terlepas dari sejarah dan impian-impianya.
Di sinilah, dunia sufistik yang selalu menjadi dasar dari sebagian kehidupan masyarakat Buton harus dibongkar melalui penjelasan-penjelasan akademis, sehingga masa depan generasi Buton dapat mengerti tentang hakikat dirinya sendiri. Di sini, Islam sebagai salah satu pandangan masyarakat Buton juga harus mampu didekati dengan pendekatan-pendakatan akademis yang rasional. Karena tanpa melalu pendekatan rasionalitas, bisa jadi dunia hayalan kita tersesat pada apa yang dirasakan. Oleh karena itu, kultur budaya masyarakat Buton harus mengalami perubahan dasar berpikir, dari mitologi dan ideologi yang subjektif ke pola pikir ilmiah yang objektif.
C. Buton dalam Tahapan Pemikiran Ideologi
Buton sebagai sebuah bangsa telah terkoyak oleh adanya cara berpikir ideologi. Dalam tahap berpikir ini, ideologi tampil sebagai panglima dalam perjuangan menuju apa yang dicita-citakan oleh penganutnya. Maka sebagai sebuah bangsa yang di dalamnya terdapat berbagai kepentingan melahirkan beberapa kelompok masyarakat di dalam masyarakat Buton.
Masyarakat Buton mengenal konflik kepentingan tiga golongan Buton yaitu kamboru-mboru tolu palena, yang telah menyisakan konflik politik berkepanjangan yang ada di dalam masyarakat Buton. Konflik itulah yang pada akhirnya Buton terpuruk, hanya karena kepentingan golongan yang masing-masing merasa memiliki kebenaran masing-masing. Serta adanya, pelapisan masyarakat dalam masyarakat Buton, yang terdiri dari kaoumu, walaka, maradika dan batua, merupakan kepentingan politik sebagai buah dari cara berpikir yang lahir dari nilai-nilai ideologis yang harus di capai bersama oleh kelompok pengikutnya.
Dalam tahapan pemikiran ideologi, bangsa Buton telah masuk dalam organisasi-organisasi modern, maka lahirlah organisasi-organisasi modern tetapi masih tetap dalam pengaruh mitologi yang masih mengandalkan aspek kharismatik dari tokoh yang ada di dalam masyarakat. Keterlibatan Buton sebagai bangsa yang menganut ideologi, telah menyulap aspek mitologi dalam sejarah bangsa mereka sebagai bagian doktrinasi kelompok atau strata sosial. Sehingga yang bukan kelompok atau berbeda stara sosial dianggap sebagai lawan yang harus dikalahkan. Di ruang inilah bangsa Buton mengalami kemerosotan dalam ilmu pengetahuan. Karena mereka saling menggancurkan dalam pergolakan politik tradisional yang digerakan oleh ideologi kelompok tradisional.
Lebih gawat lagi, Buton sejak awal abad ke dua puluh atau lebih jauh lagi dari itu, Buton telah terjebak dalam pola ideologi yang panjang. Hal ini terlihat dari lahirnya golongan-golongan bangsawan sejak kelahiran Buton. Sejak adanya konsep kamboru-mburo tolu palena , bangsa Buton telah berada pada tahapan berpikir ideologi, yaitu nilai-nilai tertentu yang menjadi salah satu landansan perjuangan dari kelompok-kelompok ideologi tersebut.
Perjuangan bangsa Buton dengan berdasarkan ideologi yang menjadikan politik sebagai panglima telah membawa bangsa Buton pada kelemahan-kelemahan perjuangan menuju Buton yang maju dan bermartabat. Sehubungan dengan cara berpikir ideologi tersebut, Kuntowijoyo (dalam Sugito, 2005: 58-59) mengatakan bahwa ada beberapa keterbatasan yang ada pada cara berpikir ideologi, yaitu: (1) terbukanya peluang untuk merusak soliditas suatu bangsa, karena terkotak-kotak dalam berbagai golongan dan kepentingan, (2) akan menyedot alokasi sumber daya suatu bangsa ke politik dan menelantarkan pembinaan di bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan moral bangsa tersebut; (3) mendorong munculnya pemikiran yang hanya berjangka pendek, kerdil dan miskin pemikiran yang memiliki visi jangka panjang; (4) jalur ideologi dan politik tidak dapat diandalkan dalam pembangunan sebuah bangsa di masa depan, karena tidak dapat memberikan solusi pada persoalan kompleks yang dihadapi oleh masyarakat umum; (5) perjuangan melalui jalur politik biasanya akan mengabaikan pembinaan nilai-nilai dasar suatu bangsa; dan (6) belum ada bukti empiris dalam sejarah modern yang mampu meyakinkan bahwa umat akan meraih kejayaan menyeluruh dengan menggunkan partai politk sebagai instrument perjauangan.
Dengan demikian, tahapan berpikir ideologi, merupakan tahapan berpikir yang dapat menghambat kemajuan suatu bangsa. Demikian juga dengan apa yang terjadi di dalam negeri Buton, dimana perpecahan masyarakat yang disebabkan oleh konflik politik, lebih-lebih pasca pemilu multi partai, seluruh tatanan masyarakat dihancurkan oleh adanya kepentingan politik sesaat, lebih-lebih mereka yang menggunakan uang untuk tujuan politiknya. Dengan demikian, bangsa Buton dapat dikatakan bahwa mereka telah keluar dari filosofi kehidupannya yang mengagumkan dan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan sebagai mana yang termaktub dalam undang-undang martabat tujuh.
D. Buton dalam Tahapan Pemikiran Ilmu Pengetahuan
Dalam tahapan berpikir dengan menggunakan ilmu sebagai landasannya akan berbeda dengan menggunakan ideologi sebagai landasannya. Dalam ilmu sebagai landasan berpikir akan selalu melihat fakta dari sudut pandang objektif. Sedangkan ideologi akan selalu memandang fakta dari sudut pandang subjektifitas. Sehingga kepentingan pribadi dan golongan akan selalu menjadi prioritas dalam pola pikir politik (Kuntowijoyo dalam Sugito, 2005: 58-59).
Persoalan ideologi telah menjadi catatan sejarah yang paling menggenaskan di tanah Buton. Buton telah mendapatkan coretan sejarah yang paling mengerikan, saling mefitnah, sebagai akibat dari subjektifitas kerena pengaruh ideologi telah membawa Buton pada trauma yang panjang. Akibatnya Buton tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, penggunaan ilmu pengetahun dalam pembangunan Buton Raya perlu dipertimbangkan, karena objektifitas dalam pembangunan, akan berdampak pada terbukanya kesempatan bagi siapa saja yang mau bekerja secara professional.
Di masa lalu, Buton telah memiliki konsepsi ketatanegaraan yang begitu sempurna. Melalui Undang-Undang Martabat Tujuh, harkat dan martabat manusia telah ditentukan oleh kinerja. Kalau di dalam martabat tujuh orang yang dihormati ada empat banyaknya, (1) karena keberaniannya, (2) karena kealimannya, (3) karena mengorbankan hartanya, dan (4) karena membawa kepandaiannya di jalan pemerintah dalam menyelesaikan pekerjaan pemerintah Wolio (Niampe, 2007: 220-221). Dengan demikian, sejak dari dulu bangsa Buton telah mengenal objektifitas dalam mendudukkan konsep ketatanegaraan mereka.
Di samping itu, falsafah bangsa Buton dalam konsep Pobinci-binciki kuli yang kemudian di jelaskan dalam sara pataanguna (Pomaa-maasiaka, popia-piaraaka, pomae-maeaka, dan poangka-angkataka merupakan landasan dari hukum humanisme yang memiliki pandangan dimana manusia Buton memiliki hak dan kedudukan yang sama di mata hukum dan politik.
Dengan demikian, jika bangsa Buton kembali kepada falsafah hidup yang pernah dirumuskan oleh leluhur mereka, objektifitas sebagai salah satu syarat dari tahapan berpikir ilmu pengetahuan dapat menjadi landasan berpikir dalam pembangunan Buton Raya dewasa ini. Kamboru-mboru tolu palena, sebagai tiga kekuatan politik di negeri Buton akan terhindar dari pertikaian internal. Mereka akan menilai secara objektif dalam melihat siapa yang pantas dalam memimpin Buton. Dalam masyarakat Buton, melakukan penelusuran mengenai rekaman sejarah perjalan seorang istri dan calon sultan sesuai dengan data yang ada di masyarakat.
Selanjutnya, dengan menggunakan pola berpikir ilmu pengetahuan, siapa pun di negeri Buton ini memiliki kesempatan untuk berkarya, karena itulah yang diinginkan oleh Undang-Undang Martabat Tujuh. Semua strata sosial yang ada di Buton memiliki kesempatan yang sama dalam rangka memberikan kontribusi dalam pembangunan Buton Raya. Tidak ada lagi yang merasa minder dan merasa superior, tetapi empat starata sosial (kaomu, walaka, maradika dan batua) yang ada di Buton akan bersaing secara objektif dalam pembangunan Buton Raya. Karena pada prinsipnya mereka memiliki kedudukan yang sama dalam falsafah pobinci-binciki kuli.
Melalui tahapan berpikir ilmu pengetahuan, bangsa Buton dapat memasuki persaingan global yang penuh dengan kompetisi di berbagai bidang kehidupan, karena mereka akan mengikuti kompetisi tersebut dengan cara pandang yang rasional, obejektif dan suportif. Dengan menggunakan tahapan berpikir ilmu pengetahuan tersebut, bangsa Buton dapat dihindarkan dari intrik politik yang keji dan hina sebagai buah dari ideologi yang harus diperjuangkan oleh setiap penganutnya.
Di samping itu, melalui penggunaan tahapan berpikir ilmu dalam pembangunan Buton Raya, bangsa Buton akan dibangunkan dari kungkungan mitologi yang telah lama menyelimuti bangsa Buton. Kalau selama ini bangsa Buton besar dalam lamunan dan hayalan atau lebih tepat bangsa Buton hidup dalam dunia setengah fiksi dan setengah realitas, maka melalui berpikir ilmu dapat memperjelas mana fiksi dan mana realitas dalam kehidupan bangsa Buton.
Tidak ada yang membenci tahapan berpikir mitologi dan ideologi, tetapi harus disadari bahwa bangsa-bangsa lain di dunia sudah berjalan menuju jalan baru. Mereka sudah menggunakan ilmu pengetahuan dalam membangun kemajuan bangsanya. Sementara bangsa Buton, masih terjebak pada ungkapan tentang sejarah yang dirahasiakan. Sejarah yang dimitoskan, atau bahkan sejarah yang disembunyikan. Lihatlah, setiap generasi bangsa Buton mempertanyakan tentang sesuatu di Buton, maka jawaban yang paling popular dalam kalangan masyarakat Buton adalah bahwa itu adalah rahasia. Mengapa tidak dibongkar? Dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan, semua itu dapat diberikan argument dalam bentuk naratologi yang rasional dan obejektif sesuai dengan realitas sejarah yang ada di masa lalu.
Sebagai bangsa para sufisme, bangsa Buton mengenal konsep kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal tuhanmu. Untuk itu, agar dapat membangun bangsa Buton, maka terlebih dahulu generasi bangsa Buton harus mengenal bangsa Buton itu sendiri. Baik Buton dalam konteks sejarah maupun Buton dalam konteks faham. Melalui metode ilmu pengetahuan, sejarah Buton harus ditulis dan dibuka secara terang benderang, sehingga dapat menjadi bagian sejarah dalam konteks Indonesia dan bahkan penulisan sejarah dunia. Karena selama ini sejarah Buton merupakan sejarah yang kalah dalam konteks Indonesia, dan ini mesti bangsa Buton menyadari bahwa ini adalah kesalahan bangsa Buton sendiri yang membuat sejarah bangsanya menjadi samar dalam bingkai fiksi dan realitas yang disamarkan oleh pengaruh mitos yang belum pernah tersibak atau sengaja dibiarkan.
Sebutlah, Hikayat Negeri Buton, yang mengisahkan tentang asal-usul negeri Buton, tidak semuanya berisi aspek realitas, tetapi juga berisi mengenai aspek-aspek fiksi yang mencampuri cerita tersebut. Sehingga dalam menentukan siapa pemiliki negeri Buton ini sebenarnya, apakah Si Panjongan adalah orang pertama di sini, di negeri Buton ini? Jawabannya, adalah bisa ya, dan juga bisa tidak? Sebab Hikayat Negeri Buton sendiri banyak dipengaruhi oleh Hikayat Negeri Banjar. Karena di dalam hikayat negeri Buton sendiri juga menjelaskan adanya beberapa kerajaan kecil yang sudah lama ada di Buton.
Diperlukan pendekatan ilmiah dalam membongkar sejarah masa lalu bangsa Buton. Karena melalui pendekatan ilmiah, bangsa Buton dapat membebaskan diri dari aspek mitologi. Demikian juga dengan aspek ideologi, melalui pendekatan ilmiah bangsa Buton akan menuju Buton Raya yang rasional, objektif, analisis, kritik dan sistematis. Buton Raya yang dapat memilah dimana data objektif, dan dimana prespektif yang pasti tidak ilmiah, dimana keberpihakan akan selalu dipengaruhi oleh factor subjektif.
Di samping itu, untuk mengembalikan bangsa Buton sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia di masa lalu, perlunya membongkar kembali pendekatan leluhur bangsa Buton dalam merencanakan dan mengembangkan kebudayaan Buton. Buton sebagai salah satu negara demokrasi pertama di dunia , memiliki konsepsi pemerintahan yang mampu mengakomodasi individualisme, kapitalisme, sosialisme, hukum dan religious. Konsepsi kehidupan bangsa Buton sebagai negara demokrasi pertama di dunia, dapat dilihat dari konsep inda-indamo arata, somanamo karo, inda-indamo karo, somanamo lipu, inda-indamo lipu somanamo sara, inda-indamo sara somanamo agama sadaa-daa (Putra, 2000: 86).
Dari konsepsi kehidupan sebagaimana disebutkan di atas, bangsa Buton memiliki sistem konsep hidup yang mampu memberikan jawaban atas berbagai masalah yang ada di dunia. Antony Geddes (2003) yang hanya mempertemukan kapitalisme dan sosialime dalam bukunya Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, sudah menggoyang tatanan dunia, sementara itu, leluhur bangsa Buton yang sejak lama telah merumuskan penyatuan berbagai konsep ideologi tersebut di atas, bangsa Buton tinggalkan, atau hanya mengambil sebagian dari konsep tersebut secara terpisah. Dalam hubungannya dengan ini, perlukah ada refleksi tentang apa yang dilakukan oleh bangsa Buton hari ini? Masihkan bangsa Buton hari ini menggunakan konsepsi hidup yang pernah dirumuskan oleh leluhur mereka atau tidak?
Rupanya, dengan mendekati konsepsi hidup yang pernah dibangun oleh leluhur Buton melalui pendekatan ilmu pengetahuan, bangsa Buton dapat menunjukkan diri sebagai bangsa yang mampu memberikan alternative pemecahan masalah-masalah dunia. Sebagai contoh, persoalan lingkungan yang menjadi isu utama dunia hari ini, dapat diselesaikan hanya dengan cara membuka konsepsi bangsa Buton mengenai konsep kangkilo . Sebab dengan konsep kangkilo, bangsa Buton tidak akan merusak lingkungan. Hanya saja, perlunya metode ilmiah untuk memberikan penjelasan akademis dalam meyakinkan dunia tentang konsep lingkungan yang ada dalam kangkilo tersebut.
E. Penutup
Sebagai bangsa yang pernah berjaya selama beberapa abad, bangsa Buton memiliki berbagai pengalaman dan perkembangan pemikiran sesuai dengan zamannya masing-masing. Diawal kemunculannya, bangsa Buton masih dibangun atau dikonstruksi oleh tahapan berpikir mitologi, dan saat itu, bangsa Buton mampu melahirkan tokoh-tokoh kharismatik yang dapat membangun Buton sebagai kerajaan besar. Tetapi kemajuan masih ditunjang oleh aspek irasionalitas, sebagai ciri masyarakat tradisional.
Pada tahapan berpikir ideologi, saat inilah bangsa Buton mengalami kemerosotan perkembangan, perselisihan elit politik Buton telah bermuara pada konflik politik yang berkepanjangan. Subjektivitas menjadi pertimbangan yang sering dijadikan sebagai landasan berpikir dalam memberikan tanggapan atas sesuatu. Akibatnya sikap seperti itu berdampak pada hancurnya bangsa Buton secara politik, sosial, ekonomi dan budaya.
Oleh karena itu, untuk dapat mengembalikan bangsa Buton seperti kejayaannya di masa lalu, maka pola pikir bangsa Buton harus dikembalikan pada pola pikir ilmu pengetahuan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah. Dengan demikian, bangsa Buton mampu memilah mana fiksi dan realitas, mana data dan mana presepsi serta bangsa Buton dapat memiliki berbagai pendekatan akademis dalam membangun dialog yang terbuka, rasional, objektif, analisis, kritik dan sistematis dalam membangun Buton Raya di masa yang akan datang. Bukan bangsa Buton yang penuh mitos yang kabur, dan bangsa Buton dalam bingkai ideologi yang subjektif.
F. Daftar Pustaka
Giddens, Anthony. 2002. Jalan Ketiga Pembaharuan Demokrasi Sosial. Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama.
La Niampe, 1998. Kabanti Bula Malino : Kajian Filologis Sastra Wolio Klasik. Bandung : Universitas Padjadjaran: Tesis Program Pascasarjana.
Putra, Maia Papara. 2000. Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki dalam Lembaga Kitabullah. Makassar: yayasan AUA Menyingsing Pagi.
Sahidin, La Ode. 2007. Kangkilo Pataanguna: Tinjauan Filologis. Bandung: Tesis Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.
Schoorl, Pim.2003. Masyarakat, Sejarah dan Budaya Buton. Jakarta: Djambatan, KITLV.
Udu, Sumiman. 2006. Naskah Hikayat Negeri Buton. Kendari: belum diterbitkan.
Zaenu, La Ode. 1984. Buton dalam Sejarah Kebudayaan. Surabaya: Suradipa.
Zahari, Abdul Mulku. 1977/1978. Sejarah dan Adat Wil Darul Butuni. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Depdiknas.
Zuhdi, Susanto. 1999. Labu Wana Labu Rope: Sejarah Buton Abad XVII-XVIII. Jakarta: Disertasi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Ma’arif, Syafi’i, 2005. Muslim Tanpa Mitos: Dunia Kuntowijoyo. Yogyakarta: Lembaga Presma Ekspresi.
Buton sebagai salah satu kesultanan yang ada di Nusantara, telah mengalami berbagai pergolakan pemikiran, mulai dari pemikiran yang mitologi, ideologi, sampai pada pemikiran berbasis ilmu pengetahuan. Namun, akhirnya Buton tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada, hal ini disebabkan karena masyarakat Buton tidak dapat melepaskan diri dari aspek mitologi yang membuat mereka tidak rasional, tetapi penuh dengan irasional, tidak objektif, dan kemudian Buton dipecah belah oleh pemikiran ideologis yang juga tidak rasional dan objektif, Buton kehilangan aspek epistemology sebagai ruang untuk melakukan objektivitas dalam segala langkah.
Kajian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan fenomenologis untuk melihat dinamika kebudayaan masyarakat Buton.
Hasil kajian ini menunjukkan bahwa masyarakat Buton sampai hari ini masih dipengaruhi oleh aspek mitologi dan ideologi, sehingga masyarakat Buton tidak dapat berkembang menuju kemajuan sebagaimana beberapa daerah kesultanan yang ada di Nusantara dan dunia. Sementara kajayaan Buton di masa pemeritahan Muhamad Idrus Kaimuddin, saat ini ditinggalkan oleh masyarakat Buton sendiri.
kata kunci: Buton, mitologi, ideologi, ilmu pengetahuan
A. Pengantar
Buton sebagai salah satu Kesultanan yang ada di Nusantara, merupakan salah satu negeri atau bangsa yang trauma dalam sejarah (Zuhdi, 1999). Buton kehilangan konsepsi hidupnya selama berpuluh-puluh tahun. Buton tidak lagi mengenal dirinya, Buton terselimuti oleh mitologi dan ideologi, sehingga bangsa Buton kehilangan identitas dirinya sebagai bangsa yang memiliki dan mengagumi ilmu pengetahuan.
Perjalanan bangsa Buton pernah memasuki masa keemasannya yaitu pada masa pemerintahan Sultan Muhamad Idrus Kaimuddin. Ilmu Pengetahuan menjadi dasar dalam sistem pemerintahannya. Tidak salah kalau pada masa lalu kita mengenal ungkapan “Wolio siy mangkidi-kidi, kabongka-bongkana dunia”. Ungkapan leluhur Buton atas kebesaran bangsa Buton di atas, terlihat dari tingginya pergolakan ilmu pengetahuan di negeri ini . Penyebutan Buton sebagai pusat ilmu pengetahuan di masa lalu juga masih dapat ditelusuri dari banyaknya buah-buah pikiran leluhur kita yang tersimpan di dalam berbagai naskah. Hampir semua aspek kehidupan telah dibahas dalam naskah: pemerintahan, politik, pendidikan, persoalan perempuan, seks dan lain-lainnya.
Namun ungkapan tentang kebesaran Buton itu, hari ini perlu direfleksi kembali. Jangan sampai Buton kembali masuk ke dalam tahapan pemikiran mitologi, dan ideologi yang justru membawa Buton kepada masa kegelapan yang berdampak pada adanya perbedaan pandangan idiologis dalam masyarakat Buton sendiri. Sedanglan dalam sejarahnya, Buton telah mengalami tahapan berpikir ilmu pengetahuan yang membawa Buton pada masa keemasan di masa Muhamad Idrus Kaimuddin dan Syeh Haji Abdul Ganiu.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Buton dalam bingkai berpikir mitologi, ideology, dan ilmu pengetahuan, maka tulisan ini dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka (naskah dan beberapa referensi lainnya) dimaksudkan untuk mengetahui berbagai informasi mengenai sepek mitologi, ideologi dan ilmu pengetahuan di masa kesultanan Buton, sedangkan pengamatan dan wawancara dilakukan untuk mengetahui adat dan budaya Buton yang ada dalam masyarakat Buton dewasa ini. Selanjutnya data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan perkembangan tahap-tahap pemikiran bangsa Buton di masa lalu dan hari ini.
B. Buton dalam Tahapan Pemikiran Mitologi
Dalam masyarakat Buton, tahapan pemikiran mitologi ini berlangsung sebelum abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Menurut Kuntowijoyo (Dahlan dalam Ma’arif, 2005: 25-26), mitos adalah suatu konsep tentang kenyataan yang mengandaikan bahwa dunia pengalaman kita sehari-hari terus-menerus disusupi oleh kekuatan-kekuatan keramat. Sistem pemikiran mitos ini ditandai cara berpikir pralogis (mistis) yang mengambil bentuk magis, pemberontakan dengan lokasi pedesaan, bersifat lokal, berlatar belakang ekonomi agraris masyarakat petani, solidaritas mekanis yang biasanya digerakan oleh model kepemimpinan seorang tokoh kharismatik.
Dalam sejarah perjalanan bangsa Buton, mitos jauh lebih jauh dari pada sejarah Buton sendiri. Cerita mengenai kelahiran Ratu Wa Kaaka merupakan salah satu contoh fiksi yang melatari lahirnya bangsa Buton yang berbaur dengan sejarah. Walaupun sejarah kehadiran Ratu Wakaaka berdasarkan fakta sejarah, tetapi masih disimpan dalam bingkai fiksi, legenda. Itulah pasal yang menjadi sebab mengapa fakta sejarah dalam mitos tapil dengan wadak yang terlampau samar dan sumir.
Sebagaimana disebutkan di atas, di awal-awal pertama tumbuhnya kerajaan Buton, sebagaimana kerajaan-kerajaan lain di dunia, semua memiliki mitos untuk membesarkan rajanya. Tersebutlah kisah raja-raja yang berasal dari buih, dari kahyangan, atau raja-raja yang datang dari tumbuhan. Dalam konteks itu, raja Buton pertama Ratu Wa Kaaka dimitoskan lahir dari bambu. Dan dari hasil perkawinananya dengan Si Batara yang merupakan laki-laki yang ditemukan di laut lahirlah Bulawambona (bdk. Zahari, 1977/1978; Zaenu, 1984).
Dunia mitologi ini, bagi bangsa Buton di zamannya, merupakan suatu yang harus ada dalam mendukung nilai kharismatik dari sang ratu, sebab jika ratu itu berasal dari manusia biasa, maka ia tidak akan memiliki kharismatik (Naskah Hikayat Negeri Buton). Maka untuk kepentingan itulah, mitologi dibutuhkan dalam kerajaan Buton dan kerajaan-kerajaan lain yang ada di dunia. Namun, tahapan berpikir mitologi itu, sudah ditinggalkan oleh bangsa-bangsa lain yang ada di dunia, sementara bangsa Buton sampai hari ini masih menggunakan cara berpikir mitologi dan menganggap bahwa kehidupan sehari-hari mereka selalu dipengaruhi oleh aspek-aspek mistis dan supranatural, akibatnya bangsa Buton terlambat untuk maju jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain yang telah bergeser ke dalam tahapan berpikir ilmu pengetahuan dan teknologi.
Memang mitos bukan hanya produk masyarakat tradisional, tetapi dalam dunia modern pun masih tetap menggunakan aspek mitos, dan disinilah perlunya kesadaran baru bagi masyarakat Buton bahwa pentingnya untuk berpikir dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan yang objektif dan rasional. Dalam masyarakat Buton dewasa ini, sebagain masyarakat masih memiliki cara berpikir yang diselimuti oleh cara berpikir mitologi yang masih dipengaruhi oleh mitos-mitos lama.
Akibatnya, di era digital seperti ini, bangsa Buton mengalami kemerosotan cara berpikir. Bangsa Buton hampir tidak dapat melepaskan diri dari pola pikir mitologi, yang berdampak pada etos kerja mereka yang irasional dan tidak objektif, tetapi masih tetap terselimuti oleh mitos-mitos yang selama ini diyakininya sebagai bagian sejarah yang menguntungkan mereka. beberapa contoh dari cara berpikir mitologi itu adalah adanya penonjolan identitas yang ada dalam kalangan Buton. Mereka hanya mempertentangkan persoalan strata sosial, ‘ode’ dan bukan ‘ode’, karena mereka menganggap bahwa gelar itu merupakan sarana untuk mendapatkan kharismatik di dalam masyarakat. Lebih-lebih Belanda dengan metode politik belah bambunya berusaha untuk mengaburkan pola pikir Buton yang ilmiah dalam tatanan kehidupan mereka, misalnya ukuruan manusia Buton dalam martabat tujuh. Sementara di sisi yang lain, sebagian masyarakat Buton yang tidak menggunakan gelar itu akan terus-menerus melawan, pada hal saat ini, yang terpenting bagi bangsa Buton adalah kinerja dan profesionalisme.
Tidak semua yang disebut mitos itu salah dalam kehidupan manusia, tetapi seluruh hal-hal yang berbau mitologi harus mampu dijelaskan dengan pendekatan-pendekatan ilmu pengetahuan, karena dalam ilmu inilah bangsa Buton harus berada dalam realitas, walaupun tidak terlepas dari sejarah dan impian-impianya.
Di sinilah, dunia sufistik yang selalu menjadi dasar dari sebagian kehidupan masyarakat Buton harus dibongkar melalui penjelasan-penjelasan akademis, sehingga masa depan generasi Buton dapat mengerti tentang hakikat dirinya sendiri. Di sini, Islam sebagai salah satu pandangan masyarakat Buton juga harus mampu didekati dengan pendekatan-pendakatan akademis yang rasional. Karena tanpa melalu pendekatan rasionalitas, bisa jadi dunia hayalan kita tersesat pada apa yang dirasakan. Oleh karena itu, kultur budaya masyarakat Buton harus mengalami perubahan dasar berpikir, dari mitologi dan ideologi yang subjektif ke pola pikir ilmiah yang objektif.
C. Buton dalam Tahapan Pemikiran Ideologi
Buton sebagai sebuah bangsa telah terkoyak oleh adanya cara berpikir ideologi. Dalam tahap berpikir ini, ideologi tampil sebagai panglima dalam perjuangan menuju apa yang dicita-citakan oleh penganutnya. Maka sebagai sebuah bangsa yang di dalamnya terdapat berbagai kepentingan melahirkan beberapa kelompok masyarakat di dalam masyarakat Buton.
Masyarakat Buton mengenal konflik kepentingan tiga golongan Buton yaitu kamboru-mboru tolu palena, yang telah menyisakan konflik politik berkepanjangan yang ada di dalam masyarakat Buton. Konflik itulah yang pada akhirnya Buton terpuruk, hanya karena kepentingan golongan yang masing-masing merasa memiliki kebenaran masing-masing. Serta adanya, pelapisan masyarakat dalam masyarakat Buton, yang terdiri dari kaoumu, walaka, maradika dan batua, merupakan kepentingan politik sebagai buah dari cara berpikir yang lahir dari nilai-nilai ideologis yang harus di capai bersama oleh kelompok pengikutnya.
Dalam tahapan pemikiran ideologi, bangsa Buton telah masuk dalam organisasi-organisasi modern, maka lahirlah organisasi-organisasi modern tetapi masih tetap dalam pengaruh mitologi yang masih mengandalkan aspek kharismatik dari tokoh yang ada di dalam masyarakat. Keterlibatan Buton sebagai bangsa yang menganut ideologi, telah menyulap aspek mitologi dalam sejarah bangsa mereka sebagai bagian doktrinasi kelompok atau strata sosial. Sehingga yang bukan kelompok atau berbeda stara sosial dianggap sebagai lawan yang harus dikalahkan. Di ruang inilah bangsa Buton mengalami kemerosotan dalam ilmu pengetahuan. Karena mereka saling menggancurkan dalam pergolakan politik tradisional yang digerakan oleh ideologi kelompok tradisional.
Lebih gawat lagi, Buton sejak awal abad ke dua puluh atau lebih jauh lagi dari itu, Buton telah terjebak dalam pola ideologi yang panjang. Hal ini terlihat dari lahirnya golongan-golongan bangsawan sejak kelahiran Buton. Sejak adanya konsep kamboru-mburo tolu palena , bangsa Buton telah berada pada tahapan berpikir ideologi, yaitu nilai-nilai tertentu yang menjadi salah satu landansan perjuangan dari kelompok-kelompok ideologi tersebut.
Perjuangan bangsa Buton dengan berdasarkan ideologi yang menjadikan politik sebagai panglima telah membawa bangsa Buton pada kelemahan-kelemahan perjuangan menuju Buton yang maju dan bermartabat. Sehubungan dengan cara berpikir ideologi tersebut, Kuntowijoyo (dalam Sugito, 2005: 58-59) mengatakan bahwa ada beberapa keterbatasan yang ada pada cara berpikir ideologi, yaitu: (1) terbukanya peluang untuk merusak soliditas suatu bangsa, karena terkotak-kotak dalam berbagai golongan dan kepentingan, (2) akan menyedot alokasi sumber daya suatu bangsa ke politik dan menelantarkan pembinaan di bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan moral bangsa tersebut; (3) mendorong munculnya pemikiran yang hanya berjangka pendek, kerdil dan miskin pemikiran yang memiliki visi jangka panjang; (4) jalur ideologi dan politik tidak dapat diandalkan dalam pembangunan sebuah bangsa di masa depan, karena tidak dapat memberikan solusi pada persoalan kompleks yang dihadapi oleh masyarakat umum; (5) perjuangan melalui jalur politik biasanya akan mengabaikan pembinaan nilai-nilai dasar suatu bangsa; dan (6) belum ada bukti empiris dalam sejarah modern yang mampu meyakinkan bahwa umat akan meraih kejayaan menyeluruh dengan menggunkan partai politk sebagai instrument perjauangan.
Dengan demikian, tahapan berpikir ideologi, merupakan tahapan berpikir yang dapat menghambat kemajuan suatu bangsa. Demikian juga dengan apa yang terjadi di dalam negeri Buton, dimana perpecahan masyarakat yang disebabkan oleh konflik politik, lebih-lebih pasca pemilu multi partai, seluruh tatanan masyarakat dihancurkan oleh adanya kepentingan politik sesaat, lebih-lebih mereka yang menggunakan uang untuk tujuan politiknya. Dengan demikian, bangsa Buton dapat dikatakan bahwa mereka telah keluar dari filosofi kehidupannya yang mengagumkan dan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan sebagai mana yang termaktub dalam undang-undang martabat tujuh.
D. Buton dalam Tahapan Pemikiran Ilmu Pengetahuan
Dalam tahapan berpikir dengan menggunakan ilmu sebagai landasannya akan berbeda dengan menggunakan ideologi sebagai landasannya. Dalam ilmu sebagai landasan berpikir akan selalu melihat fakta dari sudut pandang objektif. Sedangkan ideologi akan selalu memandang fakta dari sudut pandang subjektifitas. Sehingga kepentingan pribadi dan golongan akan selalu menjadi prioritas dalam pola pikir politik (Kuntowijoyo dalam Sugito, 2005: 58-59).
Persoalan ideologi telah menjadi catatan sejarah yang paling menggenaskan di tanah Buton. Buton telah mendapatkan coretan sejarah yang paling mengerikan, saling mefitnah, sebagai akibat dari subjektifitas kerena pengaruh ideologi telah membawa Buton pada trauma yang panjang. Akibatnya Buton tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, penggunaan ilmu pengetahun dalam pembangunan Buton Raya perlu dipertimbangkan, karena objektifitas dalam pembangunan, akan berdampak pada terbukanya kesempatan bagi siapa saja yang mau bekerja secara professional.
Di masa lalu, Buton telah memiliki konsepsi ketatanegaraan yang begitu sempurna. Melalui Undang-Undang Martabat Tujuh, harkat dan martabat manusia telah ditentukan oleh kinerja. Kalau di dalam martabat tujuh orang yang dihormati ada empat banyaknya, (1) karena keberaniannya, (2) karena kealimannya, (3) karena mengorbankan hartanya, dan (4) karena membawa kepandaiannya di jalan pemerintah dalam menyelesaikan pekerjaan pemerintah Wolio (Niampe, 2007: 220-221). Dengan demikian, sejak dari dulu bangsa Buton telah mengenal objektifitas dalam mendudukkan konsep ketatanegaraan mereka.
Di samping itu, falsafah bangsa Buton dalam konsep Pobinci-binciki kuli yang kemudian di jelaskan dalam sara pataanguna (Pomaa-maasiaka, popia-piaraaka, pomae-maeaka, dan poangka-angkataka merupakan landasan dari hukum humanisme yang memiliki pandangan dimana manusia Buton memiliki hak dan kedudukan yang sama di mata hukum dan politik.
Dengan demikian, jika bangsa Buton kembali kepada falsafah hidup yang pernah dirumuskan oleh leluhur mereka, objektifitas sebagai salah satu syarat dari tahapan berpikir ilmu pengetahuan dapat menjadi landasan berpikir dalam pembangunan Buton Raya dewasa ini. Kamboru-mboru tolu palena, sebagai tiga kekuatan politik di negeri Buton akan terhindar dari pertikaian internal. Mereka akan menilai secara objektif dalam melihat siapa yang pantas dalam memimpin Buton. Dalam masyarakat Buton, melakukan penelusuran mengenai rekaman sejarah perjalan seorang istri dan calon sultan sesuai dengan data yang ada di masyarakat.
Selanjutnya, dengan menggunakan pola berpikir ilmu pengetahuan, siapa pun di negeri Buton ini memiliki kesempatan untuk berkarya, karena itulah yang diinginkan oleh Undang-Undang Martabat Tujuh. Semua strata sosial yang ada di Buton memiliki kesempatan yang sama dalam rangka memberikan kontribusi dalam pembangunan Buton Raya. Tidak ada lagi yang merasa minder dan merasa superior, tetapi empat starata sosial (kaomu, walaka, maradika dan batua) yang ada di Buton akan bersaing secara objektif dalam pembangunan Buton Raya. Karena pada prinsipnya mereka memiliki kedudukan yang sama dalam falsafah pobinci-binciki kuli.
Melalui tahapan berpikir ilmu pengetahuan, bangsa Buton dapat memasuki persaingan global yang penuh dengan kompetisi di berbagai bidang kehidupan, karena mereka akan mengikuti kompetisi tersebut dengan cara pandang yang rasional, obejektif dan suportif. Dengan menggunakan tahapan berpikir ilmu pengetahuan tersebut, bangsa Buton dapat dihindarkan dari intrik politik yang keji dan hina sebagai buah dari ideologi yang harus diperjuangkan oleh setiap penganutnya.
Di samping itu, melalui penggunaan tahapan berpikir ilmu dalam pembangunan Buton Raya, bangsa Buton akan dibangunkan dari kungkungan mitologi yang telah lama menyelimuti bangsa Buton. Kalau selama ini bangsa Buton besar dalam lamunan dan hayalan atau lebih tepat bangsa Buton hidup dalam dunia setengah fiksi dan setengah realitas, maka melalui berpikir ilmu dapat memperjelas mana fiksi dan mana realitas dalam kehidupan bangsa Buton.
Tidak ada yang membenci tahapan berpikir mitologi dan ideologi, tetapi harus disadari bahwa bangsa-bangsa lain di dunia sudah berjalan menuju jalan baru. Mereka sudah menggunakan ilmu pengetahuan dalam membangun kemajuan bangsanya. Sementara bangsa Buton, masih terjebak pada ungkapan tentang sejarah yang dirahasiakan. Sejarah yang dimitoskan, atau bahkan sejarah yang disembunyikan. Lihatlah, setiap generasi bangsa Buton mempertanyakan tentang sesuatu di Buton, maka jawaban yang paling popular dalam kalangan masyarakat Buton adalah bahwa itu adalah rahasia. Mengapa tidak dibongkar? Dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan, semua itu dapat diberikan argument dalam bentuk naratologi yang rasional dan obejektif sesuai dengan realitas sejarah yang ada di masa lalu.
Sebagai bangsa para sufisme, bangsa Buton mengenal konsep kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal tuhanmu. Untuk itu, agar dapat membangun bangsa Buton, maka terlebih dahulu generasi bangsa Buton harus mengenal bangsa Buton itu sendiri. Baik Buton dalam konteks sejarah maupun Buton dalam konteks faham. Melalui metode ilmu pengetahuan, sejarah Buton harus ditulis dan dibuka secara terang benderang, sehingga dapat menjadi bagian sejarah dalam konteks Indonesia dan bahkan penulisan sejarah dunia. Karena selama ini sejarah Buton merupakan sejarah yang kalah dalam konteks Indonesia, dan ini mesti bangsa Buton menyadari bahwa ini adalah kesalahan bangsa Buton sendiri yang membuat sejarah bangsanya menjadi samar dalam bingkai fiksi dan realitas yang disamarkan oleh pengaruh mitos yang belum pernah tersibak atau sengaja dibiarkan.
Sebutlah, Hikayat Negeri Buton, yang mengisahkan tentang asal-usul negeri Buton, tidak semuanya berisi aspek realitas, tetapi juga berisi mengenai aspek-aspek fiksi yang mencampuri cerita tersebut. Sehingga dalam menentukan siapa pemiliki negeri Buton ini sebenarnya, apakah Si Panjongan adalah orang pertama di sini, di negeri Buton ini? Jawabannya, adalah bisa ya, dan juga bisa tidak? Sebab Hikayat Negeri Buton sendiri banyak dipengaruhi oleh Hikayat Negeri Banjar. Karena di dalam hikayat negeri Buton sendiri juga menjelaskan adanya beberapa kerajaan kecil yang sudah lama ada di Buton.
Diperlukan pendekatan ilmiah dalam membongkar sejarah masa lalu bangsa Buton. Karena melalui pendekatan ilmiah, bangsa Buton dapat membebaskan diri dari aspek mitologi. Demikian juga dengan aspek ideologi, melalui pendekatan ilmiah bangsa Buton akan menuju Buton Raya yang rasional, objektif, analisis, kritik dan sistematis. Buton Raya yang dapat memilah dimana data objektif, dan dimana prespektif yang pasti tidak ilmiah, dimana keberpihakan akan selalu dipengaruhi oleh factor subjektif.
Di samping itu, untuk mengembalikan bangsa Buton sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia di masa lalu, perlunya membongkar kembali pendekatan leluhur bangsa Buton dalam merencanakan dan mengembangkan kebudayaan Buton. Buton sebagai salah satu negara demokrasi pertama di dunia , memiliki konsepsi pemerintahan yang mampu mengakomodasi individualisme, kapitalisme, sosialisme, hukum dan religious. Konsepsi kehidupan bangsa Buton sebagai negara demokrasi pertama di dunia, dapat dilihat dari konsep inda-indamo arata, somanamo karo, inda-indamo karo, somanamo lipu, inda-indamo lipu somanamo sara, inda-indamo sara somanamo agama sadaa-daa (Putra, 2000: 86).
Dari konsepsi kehidupan sebagaimana disebutkan di atas, bangsa Buton memiliki sistem konsep hidup yang mampu memberikan jawaban atas berbagai masalah yang ada di dunia. Antony Geddes (2003) yang hanya mempertemukan kapitalisme dan sosialime dalam bukunya Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, sudah menggoyang tatanan dunia, sementara itu, leluhur bangsa Buton yang sejak lama telah merumuskan penyatuan berbagai konsep ideologi tersebut di atas, bangsa Buton tinggalkan, atau hanya mengambil sebagian dari konsep tersebut secara terpisah. Dalam hubungannya dengan ini, perlukah ada refleksi tentang apa yang dilakukan oleh bangsa Buton hari ini? Masihkan bangsa Buton hari ini menggunakan konsepsi hidup yang pernah dirumuskan oleh leluhur mereka atau tidak?
Rupanya, dengan mendekati konsepsi hidup yang pernah dibangun oleh leluhur Buton melalui pendekatan ilmu pengetahuan, bangsa Buton dapat menunjukkan diri sebagai bangsa yang mampu memberikan alternative pemecahan masalah-masalah dunia. Sebagai contoh, persoalan lingkungan yang menjadi isu utama dunia hari ini, dapat diselesaikan hanya dengan cara membuka konsepsi bangsa Buton mengenai konsep kangkilo . Sebab dengan konsep kangkilo, bangsa Buton tidak akan merusak lingkungan. Hanya saja, perlunya metode ilmiah untuk memberikan penjelasan akademis dalam meyakinkan dunia tentang konsep lingkungan yang ada dalam kangkilo tersebut.
E. Penutup
Sebagai bangsa yang pernah berjaya selama beberapa abad, bangsa Buton memiliki berbagai pengalaman dan perkembangan pemikiran sesuai dengan zamannya masing-masing. Diawal kemunculannya, bangsa Buton masih dibangun atau dikonstruksi oleh tahapan berpikir mitologi, dan saat itu, bangsa Buton mampu melahirkan tokoh-tokoh kharismatik yang dapat membangun Buton sebagai kerajaan besar. Tetapi kemajuan masih ditunjang oleh aspek irasionalitas, sebagai ciri masyarakat tradisional.
Pada tahapan berpikir ideologi, saat inilah bangsa Buton mengalami kemerosotan perkembangan, perselisihan elit politik Buton telah bermuara pada konflik politik yang berkepanjangan. Subjektivitas menjadi pertimbangan yang sering dijadikan sebagai landasan berpikir dalam memberikan tanggapan atas sesuatu. Akibatnya sikap seperti itu berdampak pada hancurnya bangsa Buton secara politik, sosial, ekonomi dan budaya.
Oleh karena itu, untuk dapat mengembalikan bangsa Buton seperti kejayaannya di masa lalu, maka pola pikir bangsa Buton harus dikembalikan pada pola pikir ilmu pengetahuan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah. Dengan demikian, bangsa Buton mampu memilah mana fiksi dan realitas, mana data dan mana presepsi serta bangsa Buton dapat memiliki berbagai pendekatan akademis dalam membangun dialog yang terbuka, rasional, objektif, analisis, kritik dan sistematis dalam membangun Buton Raya di masa yang akan datang. Bukan bangsa Buton yang penuh mitos yang kabur, dan bangsa Buton dalam bingkai ideologi yang subjektif.
F. Daftar Pustaka
Giddens, Anthony. 2002. Jalan Ketiga Pembaharuan Demokrasi Sosial. Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama.
La Niampe, 1998. Kabanti Bula Malino : Kajian Filologis Sastra Wolio Klasik. Bandung : Universitas Padjadjaran: Tesis Program Pascasarjana.
Putra, Maia Papara. 2000. Membangun dan Menghidupkan Kembali Falsafah Islam Hakiki dalam Lembaga Kitabullah. Makassar: yayasan AUA Menyingsing Pagi.
Sahidin, La Ode. 2007. Kangkilo Pataanguna: Tinjauan Filologis. Bandung: Tesis Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.
Schoorl, Pim.2003. Masyarakat, Sejarah dan Budaya Buton. Jakarta: Djambatan, KITLV.
Udu, Sumiman. 2006. Naskah Hikayat Negeri Buton. Kendari: belum diterbitkan.
Zaenu, La Ode. 1984. Buton dalam Sejarah Kebudayaan. Surabaya: Suradipa.
Zahari, Abdul Mulku. 1977/1978. Sejarah dan Adat Wil Darul Butuni. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Depdiknas.
Zuhdi, Susanto. 1999. Labu Wana Labu Rope: Sejarah Buton Abad XVII-XVIII. Jakarta: Disertasi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
Ma’arif, Syafi’i, 2005. Muslim Tanpa Mitos: Dunia Kuntowijoyo. Yogyakarta: Lembaga Presma Ekspresi.
Rabu, 07 April 2010
Budaya Tradisi Lisan Yang Diabaikan
Tradisi lisan saat ini masih diabaikan, baik dari sisi kajian ilmu pengetahuan maupun aspek ekonominya. Padahal, tradisi lisan warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat beragam, mempunyai potensi besar untuk dikembangkan dari sisi budaya maupun ekonomi.
”Tradisi lisan juga bernilai ekonomis bagi masyarakat,” kata Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus salah seorang Pembina Asosiasi Tradisi Lisan, Mukhlis PaEni, dalam jumpa pers yang diselenggarakan Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sabtu (8/11) di Jakarta. Kegiatan itu terkait dengan penyelenggaraan Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara Ke-VI dan Festival Tradisi Lisan Maritim di Wakatobi pada 1-3 Desember 2008.
Menurut Mukhlis, pewarisan budaya berlaku sebagai proses sosial dan umumnya secara lisan, sebelum orang mengenal budaya tulis. Tradisi lisan antara lain narasi, legenda, anekdot, pantun, atau syair. Dalam cakupan lebih luas, tradisi lisan dapat berupa pembacaan sastra, visualisasi sastra dengan gerakan dan tari, hingga penyajian cerita melalui aktualisasi adegan oleh pemeran. Tradisi lisan juga berkaitan dengan sistem kognitif masyarakat, seperti adat istiadat, sejarah, etika, sistem geneologi, dan sistem pengetahuan.
Menurut Mukhlis, tradisi lisan merupakan deposit penting dalam khazanah tambang budaya Indonesia. Terdapat ratusan etnik dan budayanya di Tanah Air.
”Di era ekonomi dan industri kreatif, deposit ini seharusnya dikelola untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sumber inspirasi
Mukhlis menambahkan, memasukkan tradisi sebagai bagian dari industri kreatif bukan berarti mentah-mentah mencabut tradisi itu dari akarnya dan ”menjualnya” atau mengomersialisasikannya begitu saja. Namun, tradisi lisan itu menjadi sumber inspirasi untuk penciptaan produk kreatif, misalnya musik, program televisi, film, teater, opera, dan produk lain yang mempunyai nilai ekonomis. Dapat pula dibuat semacam duplikasi yang khusus untuk industri kreatif. Dia mencontohkan naskah I La Galigo dari Makasar.
”Naskah tersebut pernah dijadikan pertunjukan oleh Robert Wilson dan dipentaskan di luar negeri. Untuk menonton I La Galigo, orang Indonesia harus nonton di teater di Amsterdam, Belanda, dan membayar puluhan euro,” ujarnya.
Memiliki nilai tambah
Ketua Asosiasi Tradisi Lisan sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Pudentia MPPS, mengatakan, pada intinya bagaimana tradisi lisan yang sangat kaya di Indonesia tersebut agar mempunyai nilai tambah dan kekuatan untuk masuk ke industri kreatif. Asosiasi Tradisi Lisan sendiri, setelah merevitalisasi sejumlah tradisi lisan, kini mulai memikirkan bagaimana agar tradisi lisan tersebut dapat terus teraktulisasi di dalam masyarakat dan memberikan nilai tambah.
”Terkadang setelah revitalisasi, tradisi tersebut tetap sulit untuk mendapatkan tempat di masyarakat dan dilupakan kembali,” ujar Pudentia.
Untuk itu, Asosiasi Tradisi Lisan mulai membuat sejumlah film, salah satunya tentang Teater Mak Yong, sebuah teater Melayu yang hampir punah. Lembaga nirlaba tersebut juga mengumpulkan ratusan hasil penelitian mengenai mitos, cerita daerah, kesenian tradisional, bahasa, kajian etnografi, dan komunikasi yang didokumentasikan lembaga tersebut.
Bupati Wakatobi Hugua, dalam kesempatan yang sama, berpendapat, tradisi lisan bagian dari eksistensi manusia. Kabupaten Wakatobi yang merupakan daerah kepulauan tidak hanya kaya akan alam bawah lautnya, tetapi juga budaya termasuk tradisi lisannya.
”Tradisi lisan juga bernilai ekonomis bagi masyarakat,” kata Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus salah seorang Pembina Asosiasi Tradisi Lisan, Mukhlis PaEni, dalam jumpa pers yang diselenggarakan Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sabtu (8/11) di Jakarta. Kegiatan itu terkait dengan penyelenggaraan Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara Ke-VI dan Festival Tradisi Lisan Maritim di Wakatobi pada 1-3 Desember 2008.
Menurut Mukhlis, pewarisan budaya berlaku sebagai proses sosial dan umumnya secara lisan, sebelum orang mengenal budaya tulis. Tradisi lisan antara lain narasi, legenda, anekdot, pantun, atau syair. Dalam cakupan lebih luas, tradisi lisan dapat berupa pembacaan sastra, visualisasi sastra dengan gerakan dan tari, hingga penyajian cerita melalui aktualisasi adegan oleh pemeran. Tradisi lisan juga berkaitan dengan sistem kognitif masyarakat, seperti adat istiadat, sejarah, etika, sistem geneologi, dan sistem pengetahuan.
Menurut Mukhlis, tradisi lisan merupakan deposit penting dalam khazanah tambang budaya Indonesia. Terdapat ratusan etnik dan budayanya di Tanah Air.
”Di era ekonomi dan industri kreatif, deposit ini seharusnya dikelola untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sumber inspirasi
Mukhlis menambahkan, memasukkan tradisi sebagai bagian dari industri kreatif bukan berarti mentah-mentah mencabut tradisi itu dari akarnya dan ”menjualnya” atau mengomersialisasikannya begitu saja. Namun, tradisi lisan itu menjadi sumber inspirasi untuk penciptaan produk kreatif, misalnya musik, program televisi, film, teater, opera, dan produk lain yang mempunyai nilai ekonomis. Dapat pula dibuat semacam duplikasi yang khusus untuk industri kreatif. Dia mencontohkan naskah I La Galigo dari Makasar.
”Naskah tersebut pernah dijadikan pertunjukan oleh Robert Wilson dan dipentaskan di luar negeri. Untuk menonton I La Galigo, orang Indonesia harus nonton di teater di Amsterdam, Belanda, dan membayar puluhan euro,” ujarnya.
Memiliki nilai tambah
Ketua Asosiasi Tradisi Lisan sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Pudentia MPPS, mengatakan, pada intinya bagaimana tradisi lisan yang sangat kaya di Indonesia tersebut agar mempunyai nilai tambah dan kekuatan untuk masuk ke industri kreatif. Asosiasi Tradisi Lisan sendiri, setelah merevitalisasi sejumlah tradisi lisan, kini mulai memikirkan bagaimana agar tradisi lisan tersebut dapat terus teraktulisasi di dalam masyarakat dan memberikan nilai tambah.
”Terkadang setelah revitalisasi, tradisi tersebut tetap sulit untuk mendapatkan tempat di masyarakat dan dilupakan kembali,” ujar Pudentia.
Untuk itu, Asosiasi Tradisi Lisan mulai membuat sejumlah film, salah satunya tentang Teater Mak Yong, sebuah teater Melayu yang hampir punah. Lembaga nirlaba tersebut juga mengumpulkan ratusan hasil penelitian mengenai mitos, cerita daerah, kesenian tradisional, bahasa, kajian etnografi, dan komunikasi yang didokumentasikan lembaga tersebut.
Bupati Wakatobi Hugua, dalam kesempatan yang sama, berpendapat, tradisi lisan bagian dari eksistensi manusia. Kabupaten Wakatobi yang merupakan daerah kepulauan tidak hanya kaya akan alam bawah lautnya, tetapi juga budaya termasuk tradisi lisannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
