Sabtu, 09 April 2016
Sabtu, 18 Juli 2015
Sabtu, 01 Juni 2013
Banti-Banti dan Pembangunan Pariwisata Wakatobi
Oleh:
Sumiman Udu
Pengatar
Wakatobi sebagai salah satu daerah destinasi baru di dunia, telah mengundang banyak tamu, baik dalam negeri maupun manca negara. Namun sampai saat ini, pembangunan pariwisata Wakatobi masih tetap terfokus pada pariwisata alam (wisata bawah laut) dan belum mampu menggerakkan masyarakat banyak. Oleh karena itu, dimasa yang akan datang, pembangunan pariwisata Wakatobi diharapkan dapat menggerakkan pariwisata budaya sehingga keterlibataan masyaarakat dapat lebih luas.
Jika melihat potensi wisata budaya di kabupaten Wakatobi, maka terdappat 17 buah benteng yang membentang dari benteng wabuebue di desa waha pulaun Wangi-Wangi, sampai dengan benteng patua dan Hakka di selatan pulau Binongko. Dan mulai dari tradisi balumpa di Binongko sampai tradisi mangania kabuange di pulau Wangi-Wangi. Berbagai jenis masakan tradisional, layang-layang tradisional, permainan tradisional. Semua itu dapat dikemas menjadi kekuatan pariwisata budaya di kabupaten Wakatobi. Tetapi kalau melihat apa yang terjadi di Wakatobi dewasa ini, perencanaan pariwisata masih sangat timpang, karena para konglomerat yang berinvestasi di bidang pariwisata belum melakukan perencanaan dengan hanya mempromosikan dirinya sendiri dan belum ada konektifitas kegiataan pariwisata di masyarakat.
Jika dilihat dari lama wisatawan di dalam masyarakat Wakatobi, masih sangat pendek jika dibandingkan dengan wisatawan Kamboja yang membutuhkan 6sampai 7 jam di dalam menikmati berbagai panorama wisata. Ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat Wakatobi dalam pariwisata masih sangaat kecil. Pemerintah belum sepenuhnya mendorong partiwipasi masyarakat dalam bidang ini, sehingga seolah-olah pariwisata Wakatobi masih berjalan sendiri dan masyaarakat berjalan sendiri. Suatu keadaan yang tidak diharapkan tentunya.
Kalau kita melihat beberapa penjual makanan atau wisata kuliner, masyarakat Wakatobi masih sangat jauh dari harapan. Mereka baru mampu menjual gorengan (pisang goreng, kue-kue, ikan bakar, dan saraba) seperti yang ada di pantai Waelumu, dan pasar sore jembatan Wanci, dan oina ntooge Mandati. Makanan itu, masih sangat cocok untuk konsumsi masyarakat lokal. Berbagai acara adat seperti mansa’a dan hebatu kampo belum sambung dengan para wisatawan di industri pariwisata yang ada, sehingga turis pun binggung ketika mereka naik dari laut. Mereka tidak tahu harus menonton apa?
Beberapa serot memang sudah memanfaatkan beberapa sanggar dan pelantun bhanti-bhanti (maestro) La Ode Kamaluddin untuk menghibur para turis, namun itu perlu diarahkan agar turis dapat menikmati keragaman budaya dan beberapa situs benteng yang ada. Pemerintah harus mampu mendorong pariwisata budaya berbasis masyarakat, sehingga ada keterpanggilan masyarakat dalam industri itu. mereka dapat menjadi subjek pembangunan pariwisata Wakatobi.
Tradisi Bhanti-bhanti dan Pembangunan Pariwisata
Masyarakat beradab dapat dilihat dari bagaimana kekayaan sastra daerah dari suatu peradaban tersebut. Karena sastra daerah tersebut menjadi ukuran ruang imajenis mereka tentang dunia, tentang lingkungan, manusia, sampai dengan tuhan mereka. Melalui sastranya masyaraakat dapat dipahami cara pandang mereka tentang dunia. Melalui sastra mereka, suatu masyarakat dapat merefleksi dan memproyeksi kehidupan mereka. Oleh karena itu, sebagai salah satu identitas masyarakat Wakatobi, tradisi lisan bhanti-bhanti harus mampu diarahkan untuk mendukung pambangunan pariwisata Wakatobi. Melalui tradisi bhanti-bhanti itulah masyarakat Wakatobi menyimpan berbagai ingatan kolektif mereka, merefleksi masa lalu kehidupan mereka, memproyeksi masa depan mereka. Serta melalui tradisi bhanti-bhanti itulah mereka mampu menyimpan berbagai nilai-nilai moral mereka, membentuk tata nilai dalam kehidupan mereka. Sehingga kalau tradisi bhanti-bhanti dapat didorong sebagai salah satu kekuatan pariwisata budaya berbasis seni tradisi, dapat mendorong percepatan partisipasi masyarakat Wakatobi dalam industri pariwisata. Di samping itu, panorama alam Wakatobi akan semakin indah jika ditunjang oleh wisata budaya.
Di sisi yang lain, pementasan tradisi lisan bhanti-bhanti merupakan bagian kegiatan tradisi yang sampai saat ini masih tumbuh dan berkembang di dalam masyaraka Wakatobi. Masyarakat masih menyenangi tradisi bhanti-bhanti, namun sampai saat ini, kekuatan kultural ini belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam mendorong partisipasi masyarakat dan mendorong ekonomi kreatif di Wakatobi. Untuk itu, diperlukan strategi pementasan tradisi bhanti-bhanti sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan pasar pariwisata tanpa harus merusak esensi dari tradisi tersebut.
Melalui tradisi bhanti-bhanti seorang wisatawan dapat memahami pikiran dan perasaan masyarakat lokal, dan melalui tradisi bhanti-bhanti juga dapat memahami pikiran dan perasaan para wisatawan, karena dalam tradisi bhanti-bhanti juga ada tradisi poбanti (berpantun saling berbalasan), sehingga kalau kita melihat pada keberadaan tradisi bhanti-bhanti di dalam masyarakat Wakatobi, maka bhanti-bhanti merupakan media komunikasi kultural yang efektif, termasuk di dalamnya adalah dalam memediasi proses akulturasi budaya dalam ranah pariwisata Wakatobi. Dimana melalui tradisi bhanti-bhanti budaya lokal dan global yang di bawah oleh tamu dapat saling bersinergi dalam mewujudkan akulturasi budaya yang saling menguntungkan. Karena para turis dapat belajar dari masyarakat dan masyarakat dapat belajar dari para turis.
Beberapa nilai-nilai lokal yang dapat dipelajari turis dari bhanti-bhanti adalah bagaimana masyarakat Wakatobi mampu mendialogkan masalah dengan terbuka, tanpa harus minder terhadap lawan bicara, nilai-nilai dasar Wakatobi terutama dalam melakukan kontrol terhadap pemerintah, misalnya dalam teks /La Bonto patoro la bonto/, “la bonto, tegakkan keadilan la bonto” /tetogo nolingka-lingkamo/ “kampung sudah hampir miring”. Ini menunjukan media kritik yang ada di dalam tradisi bhanti-bhanti Wakatobi. Sementara masyarakat dapat saja mempelajari nilai-nilai positif yang dibawa oleh turis, misalnya nilai-nilai kesadaran akan kebersihan lingkungan, jangan membuang sampah sembarangan.
Semua itu,dapat menjadikan tradisi bhanti-bhanti sebagai salah satu kekuatan pariwisata Wakatobi, baik sebagai media hiburan, maupun sebagai media pembelajaran dalam proses akulturasi budaya di Wakatobi.
Jumat, 19 Oktober 2012
ERA PURBA VS MODERN KAJIAN NILAI DAN IDEOLOGI KESEIMBANGAN KEKUASAAN MOMENTUM SUKSESI BAUBAU-SULTRA 2012
Oleh: Bia Wakatobi
Sebentar lagi perhelatan pemilukada di BauBau dan Sulawesi Tenggara akan digelar. Momentum ini tentu memberi isyarat harap-harap cemas antara terwujudnya pemimpin yang diharapkan berhadapan dengan resiko stagnan nya harapan akselerasi pembangunan dikedua daerah ini.
Berikut ini, sebagai putra daerah yang tumbuh besar di negeri orang (Samarinda, Red) merasa berkepentingan untuk menurunkan analisis sisi suksesi (pergantian kepemimpinan) dengan harapan menjadi pencerdas terhadap masyarakat pembaca akan wujud harapan kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi buah peran pemimpin terpilih hasil pemilukada kedua daerah berpengaruh di Sulawesi Tenggara tersebut.
Dalam sadar dan tidak sadar, nilai telah menjadi keyakinan dan penuntun diri manusia dan menganyam perkembangan masyarakat. Manusia dan masyarakat dalam setiap tahap perkembangan membutuhkan ideologi sebagai pandangan hidup. Dalam arti nilai-nilai menjadi keyakinan hati manusia dan nurani masyarakat, sedangkan ideologi sebagai pandangan hidup yang membingkai manusia dan masyarakat dalam setiap gerak dan langkah hidup dan kehidupan.
Seorang anak manusia yang tidak mempunyai kesadaran keyakinan nilai dan pandangan hidup, tentu hanya berteori dan hanya bekata-kata dalam berkonsep. Manusia demikian tidak lebih sebagai robot, hanya sekedar berkata-kata tanpa pijakan nilai dan ideologi. Manusia serba praktis-pragmatis dan di saat tertentu penuh kesepian dan kehampaan.
Manusia yang tidak menunaikan kewajiban tetapi tidak malu menggunakan hak-nya. Manusia ujung-ujung duit (UUD), mempawaikan kekuasaan dan memamerkan kepentingan yang tidak senonoh.
Nilai bermakna sesuatu yang berharga, tumbuh berkembang dalam hati manusia dan nurani masyarakat. Dikatakan nilai apabila diyakini dalam berproses untuk menjadi, membentuk hati nurani dan menganyam pola berpikir serta berwujud nyata dalam tingkah laku manusia yang membangun kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Pembentukan pola pikir dalam bingkai pandangan hidup manusia yang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di sebut ideologi. Melalui ideologi, manusia mengolah pikiran dalam model teori untuk mempengaruhi pikiran orang lain dalam menganyam kehidupan bermasyarakat.
Penyederhanaan teori dalam rumusan konsep yang dilaksanakan demi membangun hidup dan kehidupan bersama yang lebih baik. Dengan demikian diperlukan kecerdasan intelektual untuk memahami ilmu pengetahuan yang mempunyai roh nilai dan berjiwakan ideologi, bertubuh teori yang beranggota tubuh konsep dalam membangun hidup dan kehidupan.
Secara hakiki nilai bertumbuh, berkembang dan membentuk kepribadian seorang manusia. Proses berkembang nilai dalam diri manusia sangat ditentukan oleh lingkungan masyarakat yang membentuknya sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Sesungguhnya dalam diri seseorang telah dikaruniai secara kodrati nilai sebagai manusia (nilai kemanusiaan), membedakannya dengan makhluk hidup lain.
Keluarga menjadi faktor internal penentu walaupun faktor utama tetap dalam diri manusia itu sendiri. Kemudian lingkungan masyarakat yang luas dan kompleks sebagai faktor eksternal (nilai sosial). Nilai kemanusiaan dalam diri seseorang terukur dalam proses tumbuh dan berkembang anak manusia itu dengan sesama dalam keluarga dan lingkungan sosialnya.
Manusia dalam keluarga dan lingkungan masyarakat purba (abad-VI SM), nilai kemanusiaan yang tumbuh dan berkembang sangat individual. Ditandai dengan kekuatan dan kekerasan yang ditonjolkan, homo homini lupus, manusia menjadi srigala dari manusia lain. Masyarakat purba mempunyai hukum “siapa yang kuat memangsa yang lemah” (hukum rimba/hukum alam).
Dalam perkembangan semakin bertambah populasi, manusia tidak dapat mengelak dari kebutuhan akan sebuah aturan hukum hidup bersama yang lebih beradab. Keperluan aturan hukum untuk meminimalisir pengutamaan kekuatan dan peragaan kekerasan sosial oleh para penguasa purba. Era tradisional menjemput manusia dan masyarakat kepurbaan dalam semboyan ubi societas ibi ius, “di mana ada masyarakat di situ ada hukum” (hukum masyarakat), dikenal dengan masyarakat tradisional (abad ke IV SM – V M).
Kehidupan manusia dalam masyarakat purba, mempertahankan nilai kemanusiaannya melalui jalan kekerasan, menandakan pengutamaan ketahanan dan kepentingan individu serta kelompok. Sedangkan kehidupan manusia dalam masyarakat tradisional, yang diutamakan ketertiban bersama dan kepentingan umum.
Dalam tahap perkembangan manusia dan masyarakat dari zaman purba yang mengutamakan nilai kemanusiaan individual (nilai individu) bergeser ke tahap perkembangan manusia dan masyarakat tradisionnal yang mengutamakan nilai kemanusiaan bersama (nilai komunal), mengisyaratkan manusia mulai menyadari kepentingan bersama (public) sebagai makhluk sosial di samping kepentingan diri dan kelompok (ego) sebagai makhluk individu.
Tarik menarik kepentingan diri (ego) dan kepentingan umum (public) dalam diri seseorang, menandai tahap bertumbuh, berproses nilai tradisional dalam hati dan keyakinan seorang anak manusia. Konflik nilai purba versus nilai tradisional dalam diri manusia dan perkembangan masyarakat, memungkinkan tampilnya nilai religius (religio ego sun) menganyam masyarakat abad pertengahan (abad V – abad XV).
Nilai religius menawarkan keselamatan hidup akhirat bagi umat manusia yang selalu mengejar keselamatan duniawi dalam konflik kepentingan diri versus kepentingan sosial. Tawaran keselamatan hidup akhirat di era mulai berpengaruhnya agama, membantu tahap perkembangan masyarakat dalam anyaman nilai modern yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (abad XVII – abad XIX).
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menandai munculnya manusia dan masyarakat rasional (moderen) sebagai lawan manusia dan masyarakat purba, tradisional yang irasional. Baik manusia purba dan manusia tradisonal beserta masyarakat yang dihasilkan ditandai dengan keirasionalan yang lebih menguasai pola pikir dan pola kehidupan mereka.
Dalam arti bahwa pola pikir purba dan tradisional, juga pola pikir religius dan modern tentu tetap mewarnai kehidupan manusia dan masyarakat dalam perkembangan sampai kini dan akan datang. Namun yang paling berpengaruh tentu sesuai situasi dan kondisi tertentu saat itu, sekarang, dan akan datang yang menunjukan nilai-nilai dan tahapan masyarakat mana yang lebih dominan.
Dengan demikian dalam proses perkembangan diri seorang anak manusia dan masyarakat, tidak terhindarkan saling berpengaruh nilai-nilai (purba, tradisional, religius, modern) dengan karakter dan cirinya masing-masing.Dalam perkembangan nilai religius yang memediasi konflik nilai purba versus nilai tradisional, melahirkan nilai modern dengan masyarakat modern dalam semboyan corgito ego sun, “saya berpikir maka saya ada”. Pencermatan nilai modern dengan masyarakat modern menganyam ideologi sosialis versus ideologi kapitalis.
Tercermati bahwa Ideologi sosialis sebagai pola pikir menganyam kelanjutan masyarakat tradisional yang rasional, sedangkan ideologi kapitalis sebagai pola pikir mereinkarnasi masyarakat purba yang rasional di era kekinian.Dalam arti bahwa feodalisme yang menjadi watak kekuasaan dan ciri masyarakat tradisional, terformat kembali dalam manusia dan masyarakat modern sosialis. Sedangkan andalan kekuatan dan kekerasan yang menjadi watak kekuasaan dan ciri masyarakat purba tereinkarnasi dalam manusia dan masyarakat moderen kapitalis.
Nilai dan ideologi membelenggu, memperbudak atau memerdekakan, memanusiakan? Merupakan sebuah pertanyaan menggelitik kebatinan, kerohanian seorang anak manusia demi mengoreksi dan mengevaluasi suatu perkembangan diri. Perkembangan diri yang berkorelasi erat dengan perkembangan masyarakat sebagai buah pikiran dan karya, terutama ditujukan kepada manusia para pemimpin.
Manusia para pemimpin yang dipercayakan Rakyat dan Umat untuk memimpin di berbagai lini kekuasaan demi membawa perubahan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik dari hari kemarin. Apalagi manusia para pemimpin yang tidak dalam kesadaran merajut keyakinan nilai dan menganyam ideologi dalam hidup dan kehidupannya secara cermat dan cerdas. Bahkan kurang meyakini nilai dan minus pemahaman ideologi dalam merajut perubahan sosial yang lebih baik.
Tentu berdampak dunia para pemimpin serba praktis pragmatis, tidak kaya nilai dan miskin makna. Dunia para pemimpin terjebak dalam nilai dan ideologi yang membelenggu kepentingan diri, kelompok dan golongan. Menerapkan kekuasaan beraroma feodal, hanya mengatasnamakan Rakyat, Umat dan demi Kepentingan Umum sekedar formalitas dan sebatas program dan anggaran.
Namun selesai jangka waktu program dan habis anggaran, serta berakhir periode kepemimpinan, sering Rakyat, Umat yang menderita, miskin, rawan pangan, gizi buruk, buta huruf, kering rohani, tidak mengalami perubahan kehidupan yang lebih baik.
Para pemimpin sering tidak memperbaharui hidup secara maksimal dan berkacamata kuda dalam penghayatan nilai-nilai. Kualitas dunia para pemimpin yang tidak reformatif, sebagai dampak kurang cermat memahami ideologi, berujung ketidak-konsistenan berpikir dan bersikap.
Ketidak-konsistenan dalam mewujudkan hal-hal yang pernah dikumandangkan melalui janji-janji kampanye dan khotbah melalui mimbar kepada masyarakat. Kondisi demikian sesungguhnya menandakan sedang terjadi krisis nilai dan ideologi dalam dunia para pemimpin. Perlu kesadaran bahwa sesungguhnya semangat kehidupan purba dan spirit kekuasaan tradisional secara aktual sedang terjadi, dipraktekan dalam dunia para pemimpin di era sekarang.
Melalui kekuasaan yang diberikan rakyat dan umat, dunia para pemimpin mempraktekan kekuasaan yang menggejalakan pengutamaan kepentingan diri dan kelompok, menyederhanakan setiap pemecahan masalah sosial dengan anggaran (uang), kemudian tidak efisien dan efektif penggunaan untuk kepentingan Rakyat dan Umat. Karena dari lima agenda Reformasi 1998 (Amandemen UUD 1945, Hapus Dwi Fungsi ABRI, Percepat Pemilu, Pemerataan Pembangunan ke Daerah, Berantas Korupsi), hanya agenda pemeberantasan korupsi yang secara telanjang menampakan kegagalan pemerintah dari satu regim ke regim yang lain telah gagal untuk memberantas.
Feodalisme kekuasaan yang mengatasnamakan rakyat dan memanipulasi keberadaan umat dengan anggaran, kenyataan lebih banyak diperuntukan jalan-jalan para pemimpin dengan dayang-dayang birokrasi, para pengawal politik, serta para utusan/mediator para penguasa dan pengusaha, serta kroni-kroni dari ibukota Negara sampai ke kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan secara khusus pula sulit terelakkan untuk Sulawesi Tenggara.
Pawai kekuasaan yang tidak populis mencitrakan penikmatan status sosial yang diemban, menjadikan kepemimpinan kurang efisien dan efektif, terjadi hampir di setiap daerah Kabupaten/Kota dan Propinsi di seluruh Indonesia. Kemudian dikumandangkan dalam pawai pemberitaan mengenai kerinduan dan romantisme kekangenan Rakyat dan Umat dalam setiap menjemput dan menerima para pemimpin yang jalan-jalan ke daerah dan desa-desa serta kelurahan.
Terluput dari pawai pemberitaan antara lain tentang bagaimana masyarakat di daerah dan desa-desa,kelurahan kesulitan memasarkan hasil pertanian, karena jalan raya rusak atau tidak ada jalan yang menghubungkan daerah basis pertanian dengan kediaman rakyat dan umat. Pada hal sesungguhnya hasil pertanian menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat, terutama juga untuk membiayai masa depan pendidikan anak-anak. Sekaligus dari hasil pertanian rakyat itu, dapat terantisipasi krisis pangan yang menggelobal bagi Indonesia.
Dalam diri para pemimpin melekat hakekat kemanusiaan sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individu sering menampilkan dunia para pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri, kelompok, golongan berdampak merugikan kepentingan sosial.
Sedangkan sebagai makhluk sosial mewarnai dunia para pemimpin mengutamakan kepentingan sosial dengan mengorbankan kepentingan diri dan keluarga, kelompok dan golongan. Walaupun realitas sosial menampilkan dunia para pemimpin lebih diliputi spirit keyakinan nilai purba berselimut nilai modern dengan baju ideologi kapitalis.
Tertampilkan kepentingan diri dan kelompok yang diutamakan, menyederhanakan pemecahan masalah dengan anggaran (uang), tanpa melalui kajian mendalam. Mudah ditebak bahwa terjadi kebocoran anggaran dan KKN tetap terus menggurita.
Namun masyarakat sudah paham bahwa hukum senantiasa belum mampu membantu clean government, karena terjebak dalam pola penegakan tebang pilih yang lebih mengutamakan Kepastian Hukum dengan mengabaikan Kegunaan Hukum. Apalagi wilayah-wilayah kekuasaan yang tidak dapat terjangkau dengan jaring-jaring hukum, bertumbuh subur praktek-praktek kekuasaan yang korup, praktek politik balas budi.
Secara rasional tentu dunia para pemimpin tidak mungkin mengorbankan kepentingan kelompok, apalagi kepentingan diri untuk lebih mengutamakan kepentingan umum. Namun dalam berbangsa dan bernegara telah dikumandangkan jimat “kepentingan umum diletakan di atas kepentingan pribadi dan golongan”.
Jimat yang mengisyaratkan dunia para pemimpin dipenuhi roh tradisional berselimut nilai moderen dengan anyaman ideologi sosialis. Permasalahan bermasyarakat, berbangsa dan berNegara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam berideologi mulai muncul. Apakah bangsa Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945 atas nama Bangsa Indonesia, berideolgi Sosialis atau berideologi Pancasila atau berideologi Kapitalis? Tentu jawabannya Ideologi Pancasila, yang dapat dipahami secara de yure sedangkan de facto belum tentu.
Dalam pelaksanaan pembangunan muncul konsep pembangunan manusia seutuhnya sebagai bentuk pengamalan terhadap Pancasila yang dikedepankan oleh T.B Simatupang. Konsep demikian menghendaki dalam dunia para pemimpin harus mampu untuk menyeimbangkan kepentingan individu, kelompok dengan kepentingan umum dalam pelaksanaan pembangunan.
Dalam arti antara kepentingan diri dan kelompok para pemimpin dengan kepentingan umum harus diseimbangkan. Apabila para pemimpin mampu menyeimbangkan, tentu terimplementasikan kepemimpinan yang bijaksana, kepemimpinan beridelogi Pancasila yang menyeimbangkan ideologi Kapitalis dengan ideologi Sosialis. Penerapan kepemimpinan manusia setengah dewa. Karena kalau kepemimpinan terjerembab dalam pengutamaan kekuasaan untuk kepentingan diri, keluarga, kelompok dan golongan, maka tentu lebih menghidupkan suasana setan kapitalisme. Begitupun kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan umum dengan mengabaikan kepentingan golongan dan kelompok, bahkan mengorbankan kepentingan diri dan keluarga, maka tentu lebih menghidupkan suasana iblis sosialisme. Di titik keseimbangan, menserasi-selaraskan kapitalisme dengan sosialisme, dapat ditemukan, terjadi pencapaian keadaan kehidupan kemanusiaan Pancasila.
Dengan demikian mungkin tidak akan pernah terjadi polemik yang tidak berkesimpulan: di kalangan elite politik tentang paham ekonomi kerakyatan dengan ekonomi neo liberal, di kalangan elite hukum tentang penenegakan kepastian hukum dengan kegunaan hukum, di dunia demokrasi tentang demokrasi procedural dengan demokrasi substantive, di dunia media-pers tentang informasi kapitalistik dengan informasi sosialistik, di dunia kampus tentang kajian kuantitatif dengan kualitatif.
Pancasila sebagai sebuah ideolgi dengan Lima Sila (KeTuhanan, KeManusiaan, Persatuan, Demokrasi, Keadilan Sosial) muncul di paruh abad 20, tercermati mengandung Nilai Lama (Purba, Tradisional) dan Nilai Baru ( Religius, Moderen). Dengan demikian Pancasila sebagai sebuah ideologi memediasi nilai moderen kapitalis (reinkarnasi nilai purba) dengan nilai moderen sosialis (sublimasi nilai tradisional). Peran keseimbangan demikian tercermati diperankan oleh agama Kristen (Nilai Religius) menengahi nilai Purba dengan nilai Tradisional dalam kehidupan masyarakat abad Pertengahan.
Tampil nilai Religius menawarkan keselamatan akhirat bagi masyarakat Barat di abad Pertengahan, yakni menyeimbangkan kepentingan individu dengan kepentingan sosial, membuka jalan Nilai Modern.
Dalam cermatan jalan Nilai Modern mengiris masyarakat Islam Muhamadyah yang cendrung Kapitalis, penganut kristen yang kapitalis dengan masyarakat Islam Nahdatul Ulama yang cendrung Sosialis. Sedangkan penganut agama lain tercermati sebagai agama tradisi yang hierarkis (Hindu), dengan yang populis (Budha) dan berbagai kepercayaan lama yang mengadaptasi dengan Zaman Modern.
Dalam keterjebakan belenggu Nilai Purba versus Nilai Tradisional, belenggu Ideologi Kapitalis versus Ideologi Sosialis, maka Indonesia tampil Pancasila sebagai Ideologi Tengah. Ideologi yang merekat Kebhinekaan menjadi Tunggal Ika: yakni kebhinekaan agama, suku, keyakinan, daerah dapat bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menandakan manusia dan masyarakat Indonesia sebagai Dunia Mini. Tercermati, Ideologi Tengah (Pancasila) sebagai jalan keseimbangan substansi Nilai Lama dan Nilai Baru, mendamaikan Ideologi Kapitalis dan Ideologi Sosialis. Kini tantangan bagi kualitas diri para pemimpin, mampukah mengimplementasikan Nilai dan Ideologi Pancasila untuk memerdekakan Rakyat dan Masyarakat: dari belenggu Kapitalis dan Neo Liberal, dari belenggu Sosialis dan Neo Komunis?
Artinya dunia para pemimpin tidak boleh memelihara pengutamaan kepentingan diri, kelompok, golongan dan tidak boleh menggunakan kekuasaan secara feodal mengatas-namakan Rakyat dan memanipulasi keberadaan Umat dengan menghalalkan cara. Rakyat dan Umat tidak boleh digunakan lagi sebagai selimut untuk kepentingan diri, kelompok, golongan yang berkuasa.
Dunia para Pemimpin harus bersih dari KKN. Penegakan hukum tidak boleh hanya mengutamakan aspek prosedural (Kepastian Hukum) atau hanya menekankan substansi hukum (Kegunaan Hukum). Melainkan harus menyeimbangkan Kepastian Hukum dengan Kegunaan Hukum demi mencapai Keadilan Hukum.
Berpolitik perlu keseimbangan Demokrasi Prosedural dengan Demokrasi Substantive menuju Keadilan Demokrasi. Praktek Ekonomi Kapitalis diseimbangkan dengan Ekonomi Sosialis, menuju Ekonomi Pancasila. Kehidupan Media Pers sebagai penyalur Informasi, harus menyeimbangkan Informasi Kapitalis dengan Informasi Kerakyatan (Sosialis), sehingga ada balance antara kepentingan Penguasa dengan Rakyat, antara Dunia Usaha dengan Konsumen, antara Pencari Keadilan dan Penegak Keadilan.
Di titik keseimbangan itu mengisyaratkan dunia para pemimpin adalah dunia orang-orang bijak, yang mampu menyeimbangkan dalam setiap upaya serasi-selaraskan kepentingan diri, kelompok, golongan dengan kepentingan umum. Dunia para pemimpin yang sadar menjalankan kewajiban secara baik untuk dapat menerima apa yang benar-benar menjadi hak-nya.
Patut menjadi perenungan para pemimpin: Apakah mau terus terjebak, tetap teranyam dalam Nilai dan Ideologi yang membelenggu? Atau mau mereformasi diri dalam Nilai dan Ideologi yang memerdekakan, memanusiakan? Ideologi yang menserasi-selaraskan Kapitalisme dengan Sosialisme. Ideologi Pancasila telah memerdekakan Bangsa Indonesia, menawarkan kehidupan masyarakat Postmoderen (abad XX —) yang penuh kemanusiaan. Dalam penghormatan hak asasi manusia, gender, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup yang telah menjadi isu dunia (gelobal).
Masyarakat yang penuh keseimbangan antar nilai dan keserasi-selarasan antar ideologi di samping memerlukan dekonstruksi untuk rekonstruksi sesuai perubahan sosial yang kontekstual. Karena itu manusia dan masyarakat kemodern-moderenan memang tidak modern, juga ketradisionalan memang tidak modern, apalagi mengabaikan aspek religius (agama). Begitupun cahaya kereligiusan tetap mengakar ke tradisi dengan terang modern, sehingga aspek religius dapat menjadi keyakinan dan harapan (optimisme) manusia dan masyarakat dalam kegelapan tradisi dan kegulitaan modern. Akhirnya, saya ucapkan selamat berpesta demokrasi untuk kota BauBau dan Provinsi Sulawesi Tenggara dalam momentum suksesi tahun 2012 semoga hasil pemilukada membuahkan para pemimpin yang di dambakan.
Senin, 12 September 2011
La Ode Kamaluddin Sosok Maestro Kabanti Wakatobi
Oleh: Sumiman Udu
Berbicara mengenai kabanti, masyarakat Wakatobi akan teringat dengan nama La Ode Kamaluddin. Siapapun masayarakat Wakatobi, pasti mengetahui La Ode Kamaluddin (La Kamalu) sebagai penyanyi kabanti. Oleh karena itu, untuk melengkapi tulisan tentang kabanti tersebut, maka perlu satu bagian dalam penelitian ini yang mesti membahas La ode Kamaluddin.
3.6.1 Masa Kecil
Sejak kecil, La Ode Kamaluddin tumbuh dalam keluarga yang miskin. Ayahnya yang buta, menjadi salah satu aspek yang membuat keluarga ini menjadi miskin. Mereka tidak mengenyam pendidikan pendidikan yang tinggi. Ia bersaudara beberapa orang, dan semuanya tinggal di rumah gantung yang kecil, beratapkan daun kelapa dan berdindingkan daun kelapa pula.
Lahir di keluarga yang miskin tersebut, membuat La Ode Kamaluddin tidak kehilangan bakatnya sebagai seseorang yang mencintai kabanti. Ia dapat memainkan berbagai jenis musik yang dapat mengiringi kabanti. Kondisi fisik ayah La Ode Kamaluddin (La Ode Mbari) yang buta tidak menghalanginya untuk menjadi pemain gambus. Fisik ayahnya inilah yang memberikan kesempatan yang begitu besar untuk berhubungan dengan alat musik. Hampir setiap hari ayahnya memainkan alat musik gambus dan biola.
Bakat genetic inilah yang melatari kemampuan La Ode Kamaluddin sehingga ia pada akhirnya identik dengan kabanti. Perjalanan hidupnya selalu bersama dengan kabanti. Bahkan menurut La Ode Taufik, ayah La Ode Kamaluddin memiliki kemampuan supranatural untuk mengajarkan kabanti. Dengan meniup tangan muridnya, maka murid yang tidak tahu bermain gambus, dengan cepat akan mampu memainkan alat musik .
Memasuki masa-masa remaja, La Ode Kamaluddin mengalami banyak kendala dalam memperoleh alat-alat musiknya. Namun kegemarannya untuk memainkan musik membuatnya nekat untuk mencuri kayu rita dari kebun salah serang tetangganya. Ceritanya begini, “Suatu waktu saya pergi ke kebun untuk mencari kayu untuk gambus, tetapi karena di kebun tidak ada kayu yang cocok, maka aku melihat sebuah pohon rita di kebun orang, maka saya pun langsung menebang kayu tersebut, lalu akan memotongnya kemudian aku memikulnya ke tempat tukang kayu untuk diolah menjadi gambus.
Beberapa hari kemudian, La Ode Kamaluddin ditemui tetangganya perihal kayu yang ditebangnya di kebunnya tersebut. Tetapi setelah tetangga tersebut mendengarkan musik gambus yang dimainkan oleh La Ode Kamaluddin, maka tetangga itupun sudah mengikhlaskan kayu yang diambil oleh La Ode Kamaluddin, ia mengatakan bahwa, “Seandainya kayu itu kau gunakan untuk hal lain, maka saya akan marah padamu, tetapi karena untuk alat musik ini, maka saya tidak perlu marah karena saya juga senang mendengarkan musik gambusmu .
Maka sejak La Ode Kamaluddin memiliki alat musik itu, ia pun sudah mulai rajin memainkan alat musik itu. Maka mulailah La Ode Kamaluddin ke mana-mana di panggil oleh masyarakat. Mulailah ia dipanggil untuk menghibur orang-orang yang sedang minum arak. Dengan upah, satu cergen lima liter arak ia mendapatkan uang sebesar lima ribu rupiah. Maka mulailah La Ode Kamaluddin terkenal di seputaran Wanci.
Sehubungan dengan jasa La Ode Kamaluddin yang selalu dipakai oleh orang-orang yang minum atau sedang bersilaturahmi, salah seorang tokoh masyarakat Wakatobi yang juga senang terhadap kabanti mengatakan bahwa, “Saya dan teman-temanku dulu selalu memanggil La Ode Kamaluddin untuk menyanyi ketika kami bertemu dengan teman-teman” . Dengan demikian, La Ode Kamaluddin sejak dulu telah hidup dan menghidupkan dengan kabanti di dalam masyarakat pendukungnya.
Sejak ia selalu dipanggil untuk menghibur orang-orang, maka lama-kelamaan tersebarlah informasi ke beberapa desa tentangga akan keahlian La Ode Kamaluddin dalam memainkan musik dan menyanyikan kabanti. Maka mulai saat itulah didirikan group musik yang dipimpin oleh La Damali yang mampu bertahan beberapa tahun.
Jatuh bangunnya groop musik yang dibangun oleh La Ode Kamaluddin sedikit banyak dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan hidup. Kehidupan yang miskin membuatnya harus meninggalkan profesinya sebagai seniman dan ia harus meninggalkan kampung halaman ke rantau. La Ode Kamaluddin harus berangkat ke pulau Seram di Kepulauan Maluku untuk mencari pekerjaan di sana. Maka untuk sementara ia tidak dapat aktif di group bennya.
Sesampai di pulau seram, kesepian membuatnya tidak dapat berdaya. Kerinduan pada teman-temannya, kampung halamannya, group bennya, memaksa La Ode Kamaluddin untuk membuat gambus lagi dari kayu. Karena tanpa gambus, ia tidak akan sempurna menyanyikan teks-teks kabanti. Beberapa hari ia harus membuat gambus itu. Dan setelah ia membuat gambus, maka mulailah ia melantunkan teks-teks kabanti di rantau. Karena ditunjang oleh bakat seni yang tinggi dan penampilan serta wajah yang begitu gagah, maka ketika ia memainkan musik gambus untuk menghibur dirinya dari kegetiran hidup di rantau orang. Pada saat yang bersamaan pun ia sekaligus mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang memang jatuh cinta atas suara musik kabantinya yang indah.
3.6.2 Masa-Masa Berkarya
Sebagai seorang seniman, La Ode Kamaluddin mengalami pasang surut perkembangan dalam hidupnya. Ketidakmampuan secara ekonomi, menyebabkan La Ode Kamaluddin menjalani profesi sebagai musik panggilan. Ia akan selalu dipanggil untuk menyanyi di setiap teman-temannya minum arak . Di samping menghibur di tempat itu, La Ode Kamaluddin juga biasa dipanggil oleh masyarakat untuk menghibur masyarakat di tempat pesta. Satu malam menyanyi biasanya dihargai dengan uang lima puluh ribu sampai dengan seratus lima puluh ribu rupiah.
Perkembangan berkaryanya mulai dari penyanyi panggilan tersebut, kemudian mereka membantuk grop musik di bawah pimpinan La Damali. Beberapa tahun berkarya di dalam grom musik itu, akhirnya La Ode Kamaluddin merantau ke mana-mana, di tempat perantuan ia juga tetap berkarya dan juga membuat group-goup musik baru di perantauan.
Menjalani hidupnya sebagai seniman di tengah masyarakat yang belum mapan secara ekonomi memang sangat sulit. Mengharapkan panggilan teman-temannya yang minum dan panggilan masyarakat yang membutuhkan hiburan di tempat pesta juga tidak menjamin untuk kehidupan seorang seniman seperti La Ode Kamaluddin. Akibatnya, ia menjalani kehidupan petani dan belakangan setelah motor menjadi alternatif hidup yaitu hiduplah La Ode Kamaluddin sebagai tukang ojek. Dalam kehidupannya sebagai tukang ojek inilah, ia banyak berkarya, karena sepuluh tahun terkahir ini, ia menjalani hidup sebagai pemain orjen. Ia pindah-pindah orjen atau tidak menetap pada satu orjen, tetapi dia dipanggil sebagai penyanyi maupun sebagai pemain orjen.
Dapat dikatakan bahwa ia menjalani bakat dan keahliannya sebagai seniman ini dalam kondisi yang sulit. Lama kelamaan, maka La Ode Kamaluddin berkenalan dengan Kausiri seorang pengusaha asal Wanci yang bertempat tinggal di Surabaya. Maka sejak itulah, La Ode Kamaluddin banyak melakukan penggubahan lagu-lagu yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi. Sehingga nyaris saja ia dituntut oleh produsen kaset yang arasemen musiknya dibajak.
Tidak berhenti di situ, ia mulai menggubah lagu-lagu Wanci (Wakatobi) dengan arasemen sendiri . Maka beberapa tahun yang lalu kaset-kaset tape La Ode Kamaluddin meledak di kalangan orang Wakatobi, baik yang ada di Wakatobi maupun yang berada di luar Wakatobi, seperti di kepualaun Maluku, Papua dan bahwa masyarakat Wakatobi di sebalah barat Indonesia yaitu mereka yang menetap di daerah Jawa, Tanjung Pinang serta beberapa daerah komunitas masyarakat Wakatobi di luar negeri, yaitu Malaysia dan Sinagapure.
Di samping membuat arasemen musik kabanti dalam bentuk musik dangdut, ia juga melakukan arasemen musik kabanti dengan menggunakan alat musik biola dan gambus. Karya-karyanya yang berhubungan dengan musik kabanti ini yang pada akhirnya pada festival Asosiasi Tradisi Lisan menyelenggarakan kegiatan di Jakarta tahun Desembar 2007 yang lalu, atas bantuan pemerintah kabupaten Wakatobi, ia dan kakaknya mampu mementaskan kabanti dengan irama musik gambus di dalam acara internasional tersebut.
Akibatnya, La Ode Kamaluddin semakin di kenal oleh pemerintah daerah. Maka sejak tahun yang lalu, ia sudah dipekerjakan di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi. Dulunya La Ode Kamaluddin bekerja sebagai tukang ojek di Wakatobi.
3.6.3 La Ode Kamaluddin dan Tradisi Lisan Kabanti
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa “Dialah seorang pahlawan” dalam menghidupkan kembali tradisi lisan Wakatobi. Betapa tidak, di tengah serbuan berbagai musik modern yang kemas dalam berbagai media. Tetapi berkat gambus dan biolanya, generasi muda Wakatobi masih tetap menikmati kabanti sebagai warisan leluhurnya. Memang, di dalam masyarakat masih tetap ada masyarakat yang melantunkan kabanti sebagai pengantar tidur, tetapi itu akan mulai tergeser oleh hadirnya musik-musik baru. Musik impor bagi masyarakat Wakatobi.
Sebelum terlalu jauh kita membahas keberadaan La Ode Kamaluddin, perlu kita mengenal orang-orang Wakatobi yang memiliki jasa dalam mempopulerkan kabanti, antara lain La Ode Umuri Bolu, La ode Adili (Album apa? Tahun berapa?), La Huudu, La Pedu, La Mbongo dan lain-lain. Sementara di dalam tradisi bue-bue mereka yang masih tetap bertahan dalam melantunkan kabanti adalah Wa Bedja, Wa Yai, Wa Radi, Wa Ina Nii, Wa Sule, Wa Siti, dan beberapa ibu-ibu usia tua.
Dalam karyanya Hune dan Wa Nianse La Ode Umuri Bolu mengisahkan kisah cintanya di masa kecil. Kisah cinta itu digubahnya dalam bentuk kabanti dengan arasemen musik kabanti modifikasi. Kemudian La Ode Adili, juga meluncurkan albumnya dengan mencampurkan arasemen musiknya yakni sebagian lagunya berlirikan kabanti dan sebagain lagi menggunakan arasemen musik dangdut modern.
Sementara La Huudu, La Pedu dan La Mbongo yang sampai hari ini juga masih tetap aktif sebagai penyanyi kabanti mereka belum mengeluarkan satu album pun, walaupun musik-musik mereka hampir memenuhi nada dering telepon genggam masyarakat Wakatobi. Banyak rekaman-rekaman melalui hand phone ketika La Mbongo dan La Huudu melantunkan kabanti. Mereka juga tetap memiliki andil dalam rangka menjaga kelestarian kabanti di dalam masyarakat Wakatobi.
Keterlibatan masyarakat Wakatobi dalam mempertahankan tradisi lisan kabanti untuk tetap eksis di dalam masyarakat sangat besar, tetapi ke hadiran tokoh-tokoh tradisi lisan kabanti tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan La Ode Kamaluddin sebagai penyanyi kabanti. Karena di tengah-tengah serbuan musik modern, ia tetap konsentrasi dalam mengembangkan musik-musik kabanti. Terkadang juga La Ode Kamaluddin berperan sebagai penggubah musik-musik yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi atau bahasa Kepulauan Tukang Besi.
Dalam kehadirannya sebagai pewaris dan penyelamat tradisi lisan kabanti, La Ode Kamaluddin telah berjasa dalam mempopulerkan kabanti kepada generasi baru Wakatobi dan dunia internasional. Ia telah menyanyikan kabanti dari satu pesta ke tempat pesta yang lain, dari tempat paradaka ke tempat paradaka yang lain. Ia melantunkan kabanti dari waktu ke waktu.
Puncak karyanya dalam mempopulerkan kabanti, adalah ketika menyanyikan kabanti dalam Vestifal Tradisi Lisan Nusantara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan di Taman Ismail Marzuki tahun 2007 yang lalu. Kemudian ia kembali sosialisasikan tradisi lisan kabanti di acara yang sama pada tanggal 1 – 3 Desember 2008 di Kabupetan Wakatobi.
Kehadiran La Ode Kamaluddin di kancah vestifal tradisi lisan internasional ini, memungkinkan kabanti dapat masuk sebagai salah satu kesenian teradisional yang ada di dunia. Oleh karena itu, La Ode Kamaluddin sebagai pewaris dan penyelemat musik tradisional kabanti perlu mendapatkan apresiasi yang baik dari pemerintah. Karena beliaulah yang menjadi salah satu pewaris dan penyelamat musik tradisi di tengah serbuan budaya global.
Menyikapi prestasi La Ode Kamaluddin tersebut, Pemerintah Kabupaten Wakatobi melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata kabupaten Wakatobi, mengangkat La Ode Kamaluddin dan kakaknya sebagai tenaga harian di dinas tersebut. Dengan demikian, pemerintah kabupaten Wakatobi memiliki perhatian positif dalam rangka pengembangan kabanti sebagai salah satu roh kesenian yang ada di dalam masyarakat Wakatobi.
Tentunya, apresiasi itu belum cukup untuk seorang La Ode Kamaluddin, karena prestasi beliu harus diapresiasi oleh dunia inernasional dengan memberikan kepada beliau gelar Maestro Kabanti, yang tentunya akan setara perhatian dunia terhadap kabanti sebagai bagian dari kesenian dunia yang tidak kalah dengan kesenian yang lain yang ada di dunia.
Bahkan sejak tahun 2008 yang lalu, pemerintah kabupaten Wakatobi telah merencanakan pembangunan gedung kesenian yang rencananya akan dilatih oleh mereka yang berbakat seperti La Ode Kamaluddin. Ini semua perlu mendapatkan apresiasi dari masyarakat Wakatobi, karena pemerintah daerah kabupaten Wakatobi telah mengeluarkan dana miliyaran rupiah untuk pengembangan kesenian di dalam masyarakat Wakatobi yang menjadikan Dinas Kebudayan dan Pariwisata sebagai salah satu leading sector pembangunannya di masa yang akan datang.
Berbicara mengenai kabanti, masyarakat Wakatobi akan teringat dengan nama La Ode Kamaluddin. Siapapun masayarakat Wakatobi, pasti mengetahui La Ode Kamaluddin (La Kamalu) sebagai penyanyi kabanti. Oleh karena itu, untuk melengkapi tulisan tentang kabanti tersebut, maka perlu satu bagian dalam penelitian ini yang mesti membahas La ode Kamaluddin.
3.6.1 Masa Kecil
Sejak kecil, La Ode Kamaluddin tumbuh dalam keluarga yang miskin. Ayahnya yang buta, menjadi salah satu aspek yang membuat keluarga ini menjadi miskin. Mereka tidak mengenyam pendidikan pendidikan yang tinggi. Ia bersaudara beberapa orang, dan semuanya tinggal di rumah gantung yang kecil, beratapkan daun kelapa dan berdindingkan daun kelapa pula.
Lahir di keluarga yang miskin tersebut, membuat La Ode Kamaluddin tidak kehilangan bakatnya sebagai seseorang yang mencintai kabanti. Ia dapat memainkan berbagai jenis musik yang dapat mengiringi kabanti. Kondisi fisik ayah La Ode Kamaluddin (La Ode Mbari) yang buta tidak menghalanginya untuk menjadi pemain gambus. Fisik ayahnya inilah yang memberikan kesempatan yang begitu besar untuk berhubungan dengan alat musik. Hampir setiap hari ayahnya memainkan alat musik gambus dan biola.
Bakat genetic inilah yang melatari kemampuan La Ode Kamaluddin sehingga ia pada akhirnya identik dengan kabanti. Perjalanan hidupnya selalu bersama dengan kabanti. Bahkan menurut La Ode Taufik, ayah La Ode Kamaluddin memiliki kemampuan supranatural untuk mengajarkan kabanti. Dengan meniup tangan muridnya, maka murid yang tidak tahu bermain gambus, dengan cepat akan mampu memainkan alat musik .
Memasuki masa-masa remaja, La Ode Kamaluddin mengalami banyak kendala dalam memperoleh alat-alat musiknya. Namun kegemarannya untuk memainkan musik membuatnya nekat untuk mencuri kayu rita dari kebun salah serang tetangganya. Ceritanya begini, “Suatu waktu saya pergi ke kebun untuk mencari kayu untuk gambus, tetapi karena di kebun tidak ada kayu yang cocok, maka aku melihat sebuah pohon rita di kebun orang, maka saya pun langsung menebang kayu tersebut, lalu akan memotongnya kemudian aku memikulnya ke tempat tukang kayu untuk diolah menjadi gambus.
Beberapa hari kemudian, La Ode Kamaluddin ditemui tetangganya perihal kayu yang ditebangnya di kebunnya tersebut. Tetapi setelah tetangga tersebut mendengarkan musik gambus yang dimainkan oleh La Ode Kamaluddin, maka tetangga itupun sudah mengikhlaskan kayu yang diambil oleh La Ode Kamaluddin, ia mengatakan bahwa, “Seandainya kayu itu kau gunakan untuk hal lain, maka saya akan marah padamu, tetapi karena untuk alat musik ini, maka saya tidak perlu marah karena saya juga senang mendengarkan musik gambusmu .
Maka sejak La Ode Kamaluddin memiliki alat musik itu, ia pun sudah mulai rajin memainkan alat musik itu. Maka mulailah La Ode Kamaluddin ke mana-mana di panggil oleh masyarakat. Mulailah ia dipanggil untuk menghibur orang-orang yang sedang minum arak. Dengan upah, satu cergen lima liter arak ia mendapatkan uang sebesar lima ribu rupiah. Maka mulailah La Ode Kamaluddin terkenal di seputaran Wanci.
Sehubungan dengan jasa La Ode Kamaluddin yang selalu dipakai oleh orang-orang yang minum atau sedang bersilaturahmi, salah seorang tokoh masyarakat Wakatobi yang juga senang terhadap kabanti mengatakan bahwa, “Saya dan teman-temanku dulu selalu memanggil La Ode Kamaluddin untuk menyanyi ketika kami bertemu dengan teman-teman” . Dengan demikian, La Ode Kamaluddin sejak dulu telah hidup dan menghidupkan dengan kabanti di dalam masyarakat pendukungnya.
Sejak ia selalu dipanggil untuk menghibur orang-orang, maka lama-kelamaan tersebarlah informasi ke beberapa desa tentangga akan keahlian La Ode Kamaluddin dalam memainkan musik dan menyanyikan kabanti. Maka mulai saat itulah didirikan group musik yang dipimpin oleh La Damali yang mampu bertahan beberapa tahun.
Jatuh bangunnya groop musik yang dibangun oleh La Ode Kamaluddin sedikit banyak dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan hidup. Kehidupan yang miskin membuatnya harus meninggalkan profesinya sebagai seniman dan ia harus meninggalkan kampung halaman ke rantau. La Ode Kamaluddin harus berangkat ke pulau Seram di Kepulauan Maluku untuk mencari pekerjaan di sana. Maka untuk sementara ia tidak dapat aktif di group bennya.
Sesampai di pulau seram, kesepian membuatnya tidak dapat berdaya. Kerinduan pada teman-temannya, kampung halamannya, group bennya, memaksa La Ode Kamaluddin untuk membuat gambus lagi dari kayu. Karena tanpa gambus, ia tidak akan sempurna menyanyikan teks-teks kabanti. Beberapa hari ia harus membuat gambus itu. Dan setelah ia membuat gambus, maka mulailah ia melantunkan teks-teks kabanti di rantau. Karena ditunjang oleh bakat seni yang tinggi dan penampilan serta wajah yang begitu gagah, maka ketika ia memainkan musik gambus untuk menghibur dirinya dari kegetiran hidup di rantau orang. Pada saat yang bersamaan pun ia sekaligus mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang memang jatuh cinta atas suara musik kabantinya yang indah.
3.6.2 Masa-Masa Berkarya
Sebagai seorang seniman, La Ode Kamaluddin mengalami pasang surut perkembangan dalam hidupnya. Ketidakmampuan secara ekonomi, menyebabkan La Ode Kamaluddin menjalani profesi sebagai musik panggilan. Ia akan selalu dipanggil untuk menyanyi di setiap teman-temannya minum arak . Di samping menghibur di tempat itu, La Ode Kamaluddin juga biasa dipanggil oleh masyarakat untuk menghibur masyarakat di tempat pesta. Satu malam menyanyi biasanya dihargai dengan uang lima puluh ribu sampai dengan seratus lima puluh ribu rupiah.
Perkembangan berkaryanya mulai dari penyanyi panggilan tersebut, kemudian mereka membantuk grop musik di bawah pimpinan La Damali. Beberapa tahun berkarya di dalam grom musik itu, akhirnya La Ode Kamaluddin merantau ke mana-mana, di tempat perantuan ia juga tetap berkarya dan juga membuat group-goup musik baru di perantauan.
Menjalani hidupnya sebagai seniman di tengah masyarakat yang belum mapan secara ekonomi memang sangat sulit. Mengharapkan panggilan teman-temannya yang minum dan panggilan masyarakat yang membutuhkan hiburan di tempat pesta juga tidak menjamin untuk kehidupan seorang seniman seperti La Ode Kamaluddin. Akibatnya, ia menjalani kehidupan petani dan belakangan setelah motor menjadi alternatif hidup yaitu hiduplah La Ode Kamaluddin sebagai tukang ojek. Dalam kehidupannya sebagai tukang ojek inilah, ia banyak berkarya, karena sepuluh tahun terkahir ini, ia menjalani hidup sebagai pemain orjen. Ia pindah-pindah orjen atau tidak menetap pada satu orjen, tetapi dia dipanggil sebagai penyanyi maupun sebagai pemain orjen.
Dapat dikatakan bahwa ia menjalani bakat dan keahliannya sebagai seniman ini dalam kondisi yang sulit. Lama kelamaan, maka La Ode Kamaluddin berkenalan dengan Kausiri seorang pengusaha asal Wanci yang bertempat tinggal di Surabaya. Maka sejak itulah, La Ode Kamaluddin banyak melakukan penggubahan lagu-lagu yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi. Sehingga nyaris saja ia dituntut oleh produsen kaset yang arasemen musiknya dibajak.
Tidak berhenti di situ, ia mulai menggubah lagu-lagu Wanci (Wakatobi) dengan arasemen sendiri . Maka beberapa tahun yang lalu kaset-kaset tape La Ode Kamaluddin meledak di kalangan orang Wakatobi, baik yang ada di Wakatobi maupun yang berada di luar Wakatobi, seperti di kepualaun Maluku, Papua dan bahwa masyarakat Wakatobi di sebalah barat Indonesia yaitu mereka yang menetap di daerah Jawa, Tanjung Pinang serta beberapa daerah komunitas masyarakat Wakatobi di luar negeri, yaitu Malaysia dan Sinagapure.
Di samping membuat arasemen musik kabanti dalam bentuk musik dangdut, ia juga melakukan arasemen musik kabanti dengan menggunakan alat musik biola dan gambus. Karya-karyanya yang berhubungan dengan musik kabanti ini yang pada akhirnya pada festival Asosiasi Tradisi Lisan menyelenggarakan kegiatan di Jakarta tahun Desembar 2007 yang lalu, atas bantuan pemerintah kabupaten Wakatobi, ia dan kakaknya mampu mementaskan kabanti dengan irama musik gambus di dalam acara internasional tersebut.
Akibatnya, La Ode Kamaluddin semakin di kenal oleh pemerintah daerah. Maka sejak tahun yang lalu, ia sudah dipekerjakan di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi. Dulunya La Ode Kamaluddin bekerja sebagai tukang ojek di Wakatobi.
3.6.3 La Ode Kamaluddin dan Tradisi Lisan Kabanti
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa “Dialah seorang pahlawan” dalam menghidupkan kembali tradisi lisan Wakatobi. Betapa tidak, di tengah serbuan berbagai musik modern yang kemas dalam berbagai media. Tetapi berkat gambus dan biolanya, generasi muda Wakatobi masih tetap menikmati kabanti sebagai warisan leluhurnya. Memang, di dalam masyarakat masih tetap ada masyarakat yang melantunkan kabanti sebagai pengantar tidur, tetapi itu akan mulai tergeser oleh hadirnya musik-musik baru. Musik impor bagi masyarakat Wakatobi.
Sebelum terlalu jauh kita membahas keberadaan La Ode Kamaluddin, perlu kita mengenal orang-orang Wakatobi yang memiliki jasa dalam mempopulerkan kabanti, antara lain La Ode Umuri Bolu, La ode Adili (Album apa? Tahun berapa?), La Huudu, La Pedu, La Mbongo dan lain-lain. Sementara di dalam tradisi bue-bue mereka yang masih tetap bertahan dalam melantunkan kabanti adalah Wa Bedja, Wa Yai, Wa Radi, Wa Ina Nii, Wa Sule, Wa Siti, dan beberapa ibu-ibu usia tua.
Dalam karyanya Hune dan Wa Nianse La Ode Umuri Bolu mengisahkan kisah cintanya di masa kecil. Kisah cinta itu digubahnya dalam bentuk kabanti dengan arasemen musik kabanti modifikasi. Kemudian La Ode Adili, juga meluncurkan albumnya dengan mencampurkan arasemen musiknya yakni sebagian lagunya berlirikan kabanti dan sebagain lagi menggunakan arasemen musik dangdut modern.
Sementara La Huudu, La Pedu dan La Mbongo yang sampai hari ini juga masih tetap aktif sebagai penyanyi kabanti mereka belum mengeluarkan satu album pun, walaupun musik-musik mereka hampir memenuhi nada dering telepon genggam masyarakat Wakatobi. Banyak rekaman-rekaman melalui hand phone ketika La Mbongo dan La Huudu melantunkan kabanti. Mereka juga tetap memiliki andil dalam rangka menjaga kelestarian kabanti di dalam masyarakat Wakatobi.
Keterlibatan masyarakat Wakatobi dalam mempertahankan tradisi lisan kabanti untuk tetap eksis di dalam masyarakat sangat besar, tetapi ke hadiran tokoh-tokoh tradisi lisan kabanti tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan La Ode Kamaluddin sebagai penyanyi kabanti. Karena di tengah-tengah serbuan musik modern, ia tetap konsentrasi dalam mengembangkan musik-musik kabanti. Terkadang juga La Ode Kamaluddin berperan sebagai penggubah musik-musik yang berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Wakatobi atau bahasa Kepulauan Tukang Besi.
Dalam kehadirannya sebagai pewaris dan penyelamat tradisi lisan kabanti, La Ode Kamaluddin telah berjasa dalam mempopulerkan kabanti kepada generasi baru Wakatobi dan dunia internasional. Ia telah menyanyikan kabanti dari satu pesta ke tempat pesta yang lain, dari tempat paradaka ke tempat paradaka yang lain. Ia melantunkan kabanti dari waktu ke waktu.
Puncak karyanya dalam mempopulerkan kabanti, adalah ketika menyanyikan kabanti dalam Vestifal Tradisi Lisan Nusantara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan di Taman Ismail Marzuki tahun 2007 yang lalu. Kemudian ia kembali sosialisasikan tradisi lisan kabanti di acara yang sama pada tanggal 1 – 3 Desember 2008 di Kabupetan Wakatobi.
Kehadiran La Ode Kamaluddin di kancah vestifal tradisi lisan internasional ini, memungkinkan kabanti dapat masuk sebagai salah satu kesenian teradisional yang ada di dunia. Oleh karena itu, La Ode Kamaluddin sebagai pewaris dan penyelemat musik tradisional kabanti perlu mendapatkan apresiasi yang baik dari pemerintah. Karena beliaulah yang menjadi salah satu pewaris dan penyelamat musik tradisi di tengah serbuan budaya global.
Menyikapi prestasi La Ode Kamaluddin tersebut, Pemerintah Kabupaten Wakatobi melalui Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata kabupaten Wakatobi, mengangkat La Ode Kamaluddin dan kakaknya sebagai tenaga harian di dinas tersebut. Dengan demikian, pemerintah kabupaten Wakatobi memiliki perhatian positif dalam rangka pengembangan kabanti sebagai salah satu roh kesenian yang ada di dalam masyarakat Wakatobi.
Tentunya, apresiasi itu belum cukup untuk seorang La Ode Kamaluddin, karena prestasi beliu harus diapresiasi oleh dunia inernasional dengan memberikan kepada beliau gelar Maestro Kabanti, yang tentunya akan setara perhatian dunia terhadap kabanti sebagai bagian dari kesenian dunia yang tidak kalah dengan kesenian yang lain yang ada di dunia.
Bahkan sejak tahun 2008 yang lalu, pemerintah kabupaten Wakatobi telah merencanakan pembangunan gedung kesenian yang rencananya akan dilatih oleh mereka yang berbakat seperti La Ode Kamaluddin. Ini semua perlu mendapatkan apresiasi dari masyarakat Wakatobi, karena pemerintah daerah kabupaten Wakatobi telah mengeluarkan dana miliyaran rupiah untuk pengembangan kesenian di dalam masyarakat Wakatobi yang menjadikan Dinas Kebudayan dan Pariwisata sebagai salah satu leading sector pembangunannya di masa yang akan datang.
Kamis, 07 Oktober 2010
Kunjungan Keluarga ke Pantai Nambo
Salah satu cara untuk menikmati hidup adalah dengan membiarkan diri menyatu dengan alam. inilah saat-saat indah bersama di pantai Nambo, salah satu Destinasi wisata di Kota Kendari.
Kondisi jarak yang dekat antara Pantai Nambo dengan Kota Kendari menyebabkan kami dapat menikmati pemberian Tuhan ini dengan mudah. Anda juga dapat menikmatinya.
Indahnya Berenang di Wakatobi
Langganan:
Postingan (Atom)
